Catatan senggang (malam ini)



Ilustrasi, blog.


Malam ini, hujan sepertinya tak akan reda secepat yang kuingin. Kian malam, sunyi menjadi-jadi. Tapi sejujurnya, sunyi malam disertai rintik hujan kadang terasa lebih jujur



"SEPERTINYA musim panas segera usai. Musim penghujan telah tiba".


Kalimat itu tetiba melintas begitu saja di pikiranku malam ini. Di keheningan ini, aku merasa segala sesuatu justru tampak hidup — seolah-olah malam punya nyawanya sendiri. Aku teringat ucapan penyair, penulis--asal Prancis Antoine de Saint-ExupĂ©ry. Katanya, "Malam, saat kata-kata memudar dan segala sesuatu menjadi hidup."


BACA JUGA : Renungan tentang ada dan tiada 


Tapi, sama sekali aku tak sependapat dengan si penyair asal Prancis--Antonie itu, lebih-lebih bila saya kaitkan dengan keadaan yang kurasakan malam ini.


Malam ini, aku memandangi halaman. Pohon-pohon, tumbuhan, dan dedaunan yang berada di kiri-kanan ku berdiri tegak, diam seribu bahasa. Di atas sana, langit hitam pekat menggantung. Tak ada gemerisik. Tak ada desir.


"Sepertinya akan hujan," bisikku lirih.


Malam ini memang tak seperti malam-malam sebelumnya. Cahaya rembulan yang terus memendar, kini diselimuti awan hitam. Semilir angin yang sepanjang kemarau terus menghempas, malam ini sirna. Berganti dengan gelegar petir yang sesekali menyambar, seakan menyobek langit.


Dan akhirnya, hujan turun.


Ia turun tak begitu deras. Pelan, satu-satu, mengetuk atap dan dedaunan kering yang sudah lama dahaga. Aroma tanah basah itu pun menguar. "Akhir musim kemarau telah tiba," bisikku lagi.


Baca juga : catatan senggang

 

**


Malam ini, meski hujan tak lebat, agenda ngaji rutinku tertunda. Pesan Whatsap Group pengajian satu persatu mengirim pesan. "Kita libur dulu," tulisnya.


Pesan lainnya datang, saling tindih, beruntun menginformasikan: muzakarahnya kita libur dulu.

 

**


Aku beringsut ke dapur, nyangkring segelas kopi. Lalu duduk depan teras.


Sembari menikmati rintik hujan yang jatuh membasahi halaman. Aku merenung. Memulai nulis.

 
**


Sesuatu yang lahir itu tak ubahnya sesuatu yang pindah dari satu dunia ke dunia yang lain. Dari gelap ke terang, dari sempit ke lapang, dari diam ke tangis pertama. Dan kita-kita ini, manusia, melalui proses itu semua.


Bukankah hujan malam ini pun begitu? Ia lahir dari rahim langit yang hitam pekat. Pindah dari dunia awan yang menggantung, menuju dunia tanah yang retak menanti.


Kemarau yang mati, rahim bagi penghujan yang lahir. Seperti kita. Setiap akhir adalah pintu kelahiran yang lain.


Kini kita sudah besar. Dewasa. Lalu menikah dan beranak pinak. Saya merasakan kondisi semacam ini, sejak menikah lalu menjadi kepala krluarga. Juga orang tua dari anak-anak dan istri saya.


Jika merenung sejenak, rasanya seperti kemarin. Seakan ini baru saja, saya menaklukkan hati ibunya 'penuh perjuangan'.


Tak terasa, hari berganti hari. Minggu berganti bulan. Tahun tahun pun berlalu. Musim-musim terlewati. Sekarang sudah kita berada, hampir di penghujung tahun, 2026.


Dan saat punya anak, Dia kini, sudah fasih memanggil saya bapak. Sesekali, mengejekku.


"HA HA...," balasku tersenyum sembari memandangnya penuh cinta.


Aku ingat, begitu keluar dari perut ibunya, kudengar tangisan itu meledak. Dia menangis histeris. Tapi saya yang kebetulan berada di sampingnya membalas dengan ketawa girang penuh syukur. Yang lain juga begitu. Mereka tersenyum. Meski tangis itu berulang-ulang meledak.


Ada pelajaran menarik dari tangisan anak-anak kita saat bayi. Dan anda yang ngalami itu pasti 'merasainya'. Tangisan itu bukan sebuah ketakutan. Tetapi bukti dia ada dan hadir ke bumi.


Kini dia sudah kecang berlari dan teriak-teriak memanggilku. Dia sudah bisa kecewa jika aku tak mau diajak main. Padahal aku hanya menggodanya. Dia (anakku) itu, sesekali menggibahiku bersama ibunya.


Begitulah. Kita mesra dg anak-anak kita. Tetapi betapun mesra hubungan, anak harus meninggalkan dunia itu.


Sebagaimana dia lahir dia harus melepaskan kesatuan ragawinya bersama ibunya, juga saya, serta orang sekelilingnya.


Sebab suatu ketika nanti, dia akan beranjak ke masa dewasa dan ketika berada di posisi itu anak-anak kita harus mengambil jarak.


Meninggalkan ibu, sanak saudara, keluarga, untuk mencari dirinya sendiri. Menentukan jalan hidupnya sendiri.


Di saat kondisi itu pula, kita bisa melihat dua hal terjadi : mendekat dan menjauh.


Terlalu dekat pada ortunya, dia hanya akan menjadi anak mami yang cengeng sepanjang hidup. Pun jika terlalu jauh--boleh jadi dia menjadi orang yang hilang keseimbangan.


"Yang seharusnya terjadi adalah gabungan dialektis antara mendekat dan menjauh," kata Daniel Dakidae penulis kawakan yang sudah almarhum.

 

**


Malam ini, hujan sepertinya tak akan reda secepat yang kuingin. Kian malam, kian sunyi. Tapi sejujurnya, sunyi malam disertai rintik hujan kadang terasa lebih jujur. Atau seperti diucap Goethe-- seorang yang dikenal multitalenta mulai dari kepiawaian menulis Drama, puisi juga seorang ilmuwan. Dia berucap: "Malam adalah separuh kehidupan yang lebih baik".


Hmmm... Semoga malam ini, awal segala sesuatu yang baik-baik. Seperti bertumbuhnya aneka pepohonan, tanaman dan dedaunan yang telah lama rindu datangnya musim penghujan.

Amin.


Wallahu subhanahuwa ta,'ala a'lam.


Batulayar, Nopember 2026

Komentar