Catatan Senggang



Ilustrasi blog



Seperti malam ini. Selepas nyangkring segelas kopi. Sambil duduk di berugak. Menghentakkan kaki. Melentikkan jari jemari, tersebab mendengar musik yang diputar tetangga sebelah. Tapi aku suka musik. 


AKU nulis lagi di blog ini. Setelah sekian lama jeda. Kalau gak keliru, mungkin dua pekan.


Ada banyak kata yang belum kusambung. Ada banyak kalimat yang belum kulanjutkan, kusatukan. Lalu kurajut seperti benang: agar bermakna. Agar abadi. Agar kekal di ingatan.


Aku tak bisa menulis semua: yang kualami. Kusaksikan. Aku nulis kapan saja aku mau. Saat sepi. Saat sendiri. Saat ramai. Saat galau. Saat bahagia. Intinya, saat-saat memungkinkan untuk nulis: aku menulis. Sama sekali tak terikat situasi-kondisi. Kapan mau, saat itu nulis.


baca juga : Perempuan itu dan kabar kematian yang setiap saat kita dengar


Aku nulis lagi di blog ini. Bagiku, menulis ini seperti melakukan perjalanan. Saat jeda, lanjut lagi melangkahkan kaki. Berjalan dan terus berjalan. Berpetualang menyusuri lorong demi lorong. Saat capek, jeda. Lanjut lagi, saat kaki siap melangkah. Tak hanya nulis, hidup kita ini pun tak ubahnya : menulis. Seseorang mengukir kisah demi kisah dalam setiap waktu dalam hidup ini.


Seperti malam ini. Selepas nyangkring segelas kopi. Sambil duduk di berugak. Sambil menghentakkan kaki. Menggerakkan jari jemari, gara-gara tetangga sebelah nyetel musik. Aku suka musik. Musik apa saja. Tapi suara musik itu tiba-tiba lenyap, saat aku berusaha mengikuti liriknya. "Yang nyetel, udah tertidur," pikirku.


Ada banyak kisah. Terlalu banyak cerita, belum sempat kutulis. Ada banyak lelucon yang tak sempat kututurkan. Terlalu banyak ungkapan indah, dari orang-orang terdekatku: entah dari kawan, sahabat, dan lainnya.


Misalnya, jika aku menulis kisah berikut. Tadi, istriku cerita, ada keluarga yang tabrakan. Tak hanya patah pulang, beberapa bagian penting di motor barunya remuk. Betapa naas nasibnya. Ujian memang kadang tak kita sangka.


Kemarin malam kawan cerita. Ia begitu bahagia anaknya diterima di salah satu perguruan tinggi. Kawan lainnya, berkisah: ia ketiban rejeki. Ia dapet proyek.


Sahabat lain, ada yang ngeluh. Mertuanya cerewet. Yang lainnya, bersyukur: cicilan motornya lancar. Ini hanya beberapa saja. Potongan kisah lainnya, tersiar dari satu tempat ke tempat lainnya.


Dua hari lalu, kami diskusi. Topiknya serius. Kenapa begitu banyak pertentangan-pertentangan dalam hidup kita. Misalnya, kita udah berusaha mati-matian--eh malah gagal. Sebaliknya, saat nyante saja melakukan sesuatu: hasilnya malah bagus. Apa hidup ini sebuah pertentangan-pertentangan? Kalau begini, untuk apa kita lurus-lurus saja. Di mana letak: moral. Satu nilai yang diagung-agungkan.


Tapi diam-diam saya sepakat, bahwa: hidup adalah sebuah pertentangan. Karena itu, hidup ini paradoks.


Saya ingat satu kalimat menarik, dari penulis buku. Dia bilang begini, "Kita telah diciptakan untuk mengalami pertentangan pertentangan ini (Fareed, 2004:148)".


Ya. Berarti sulit kita sangkal kenyataan yang kita saksikan dalam hidup ini.  Ternyata, hukum pertentangan demikian tertanam dalam sifat diri kita. Apa skenario Tuhan di balik pertentangan-pertentangan itu? Setiap kita punya jawaban masing-masing.

Balik ke soal nulis. Aku menulis, nulis apa saja. Misalnya, aku ingin menulis kpribadian sahabatku. Setiap dia, mampir ke Mataram--ia kerap kali ngajak aku ngobrol. Diskusi. Ngajak ngopi. Setiap ada kegiatan, dia tak pernah lupa untuk menawarkan. Aku selalu ingat kata-katanya: "Kalau anda tak sibuk, ayo gabung !".

Kawanku ini juga unik. Setiap kali beracara di hotel, yang tak jauh dari tempat tinggalku, dia selalu menyapaku. "Ayo, kita ngopi-ngopi," ujarnya.

Sebuah ajakan yang tulus. Satu ikatan emosi yang jujur. Suatu kali dia pernah bilang padaku. Katanya : teman yang baik itu, tak pergi dari kita saat dia senang, lalu datang saat susah. Begitu cerita singkatnya.

Malam ini juga saya dapat kabar dari seorang sahabat. Ingin saya tulis panjang-panjang ceritanya. Tapi keburu ngantuk.


"Istiharat dulu lah," gumamku.


Malam ini, kusudahi tulisan ini sembari berharap : besok harus bangun pagi lagi. Aku rindu menemukan hal hal baru setiap pagi datang menyapa. Bersyukurlah, Tuhan selalu memberikan kita kesempatan untuk melanjutkan hidup. Satu karunia yang tak ternilai.


Bukankah : bisa bangun dalam di pagi esok dalam kondisi sehat, dan rejeki cukup adalah nikmat yang luar biasa? 


23.15.

Batulayar, 13 Juli 2026

Komentar