Tak ada yang abadi. Orang-orang terdekat kita sekalipun, singgah, ke hidup kita belum tentu selamanya. Ia datang, justru mengajarkan pada kita, arti kehilangan. Mengajarkan kita makna hakiki dari : 'ada' menuju 'tiada'.
SUDAH sekian banyak orang, yang singgah dalam hidup kita perlahan-lahan pergi. Di suatu kesempatan Ia pergi, tak akan kembali. Di lain waktu : Ia pergi tetapi tidak menjadi bagian dalam perjalanan hidup kita. Ia memilih menentukan jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
Bahwa Ia (ada) lalu (tiada) dalam hidup kita karena pergi lantaran situasi batas (kematian) yang merebut eksistensi hidup. Kematian adalah : puncak ketiadaan tertinggi. Ia tak punya eksistensi lagi. Membuat ia : tiada. Sehingga tak mungkin lagi bertemu dengan kita yang hidup di alam yang berbeda dengan alam kehidupan dirinya. Atau yang lain pergi, lantaran nun jauh di sana. Tak ada sesuatu yang bisa mempertemukan kita. Entah sebab waktu, kesibukan. Atau hal lain yang sangat beralasan untuk kita ketahui. Kalaupun bertemu, hanya untuk keperluan semata. Selepas itu: sirna.
Sesungguhnya kita telah menyadari bahwa kita berada dalam dua alam berbeda ini : ada dan tiada. Filsuf klasik Yunani menyebutnya : being vs non-being. Dua hal ini, jujur atau tidak membuat manusia selalu digayuti perasaan, cemas dan was-was. Kita frustasi, stres. Bahkan ada yang bunuh diri gara-gara itu. Tapi kita mengabaikan keduanya. Bahkan kita sengaja membuat kedua-duanya. Meski harus kita sadari bahwa kita tidak tahu: mengapa kita mesti ada.
"Ada"-nya kita sedari awal menimbulkan persoalan. Justru ketiadaan-lah sebenarnya yang paling kecil resikonya. Bahkan mungkin tidak ada. Maka, dua hal ini berlawanan. Hanya saja, meski 'ada' dan 'tiada' dipandang berlawanan, namun 'ada' berada di dalam 'tiada' dan 'tiada' berada di dalam 'ada' tidaklah secara niscaya bersifat logis. Seperti membenarkan ucapan Aristoteles: "Tiada" mutlak tidak ada.
Bahwa kita menunjukkan klaim bahwa 'ada' itu: beresiko. Saya kira, masuk diakal. Beralasan. Mengapa? Jika kita tiada sejak awal, tidak ada alasan kita untuk memunculkan, apalagi menemukan persoalan. Hanya saja kita tidak punya kekuatan. Kita (ada) sebab, ada yang mencipta kita :ada. Dan kita tidak mempunyai kekuatan untuk menghalangi semua itu. Di sinilah kita makin yakin bahwa ada kekuatan yang maha dahsyat untuk menciptakan kita. Kekuatan itu: tak tertandingi sesuatu apapun: Tuhan.
Tuhan berada di atas segala-galanya. Tetapi meskipun ada, nalar kita tak sanggup menelusuri keberadaannya. Fareed Ahmad mengatakan: transendensi sekaligus imanensi Tuhan tidaklah secara niscaya bersifat logis.
Artinya: betapapun logis adanya kekuatan di luar diri kita, sebenarnya tidak pula membuat pengetahuan kita untuk mengajukan klaim: lalu gampang untuk kita terima.
Buktinya, masih banyak yang menolak nasib. Menolak kejahatan. Mengejar kebahagian. Dari bijak, lalu melanggar moral. Dua hal paradoks. Mestinya, semua itu tidak kita tolak. Sebab konsekuensi ada: meniscayakan keduanya.
Di sinilah perenungan tentang hidup penting adanya. Filsafat bisa mengajarkan itu. Berfilsafat berarti : berfikir tentang asal mula sesuatu. Kita menanyakan kenapa kita mesti 'ada' dan 'tiada'. Untuk apa: kita ada, lalu tiada. Seorang sibuk mengejar harta, jabatan, tetapi kesibukannya membuat ia lupa, bahwa ada yang lebih berharga dari sekedar materi. Di situ ada cinta, kelembutan, ketulusan. Berfilsafat berarti: orang tidak perlu buru-buru untuk cepat percaya, cepat puas atau apa lah.
Filsafat memberikan lebih dari yang kita cari. Sementara dunia, seperti ditegaskan Albert Camus: dunia tak selalu memberi jawaban.
Filsafat mengajak kita berfikir tentang tujuan kita hidup. Dari ada, lalu tiada. Inilah mungkin yang dimaksudkan Socrates : filsafat itu latihan menghadapi kematian (Yudi Latif, 2026).
Hidup tak ubahnya antrian. Atau menunggu giliran. Siap hidup berarti siap kehilangan eksistensi. Barangkali kematian itulah sebenarnya tujuan kita hidup? Benarkah?
Tetapi jujur saja, kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Padahal inilah puncak dari ketiadaan kita.
Kematian adalah Resiko menjadi 'ada'. Akhir dari semua peristiwa keberadaan manusia.
Untuk itu, renungan tentang 'ada' dan 'tiada' puncak dari sesuatu yang filsafati. Dunia tak selalu memberi jawaban sementara filsafat menembus batas cahaya yang maha ada, dan mustahil tiada.
Ketiadaan itulah yang menjadikan hidup manusia bermakna pada setiap helaan nafas keberadaan kita di muka bumi. Tanpa ketiadaan, keberadaan kehilangan dimensinya; seperti gelas kosong tak ada isi.
Maka, belajar memeluk filsafat "Ada dan Tiada" adalah belajar untuk tidak lagi takut pada kehilangan, kesunyian, atau ketidakpastian. Ketika sesuatu dalam hidup kita lenyap—baik itu cita-cita, hubungan, atau kepemilikan—kita tidak sedang dihancurkan oleh ketiadaan. Kita hanya sedang dikembalikan ke dalam ruang kosong, tempat di mana wujud baru dari ada sedang bersiap untuk dilahirkan kembali.
Terlalu sepele meng-andaikan sesuatu bahwa kebahagiaan adalah yang kita cari. Sementara penderitaan harus kita hindari. Padahal keduanya niscaya. Hidup adalah tentang memberi dan menerima.
Terlampau oversimplikasi ketika mengajukan klaim: hidup untuk mendulang sesuatu yang bendawi, popularitas-- tak lain sebuah kekeliruan.
Kita datang (ada) tak membawa apa-apa. Lalu saat waktunya pergi (tiada) tak jua dapat kita genggam. Mungkin kita merasa takut kehilangan, sebab sebegitu banyak hal-hal berharga yang harus kita tinggalkan. Tapi kita tak pernah sadar, bahwa yang kita anggap berharga itu dalam sekejap : pergi mencari keberadaan-nya dalam diri orang lain. Lalu kita pun dilupakan. Kenangan, justru akan dianggap racun kehidupan bagi orang lain, karena mencipta yang tiada menjadi ada.
Justru itu, hiduplah sebagaimana hidup itu: berusaha menjadi baik, memberikan yang terbaik. Ketulusan, kelembutan akan membuat namamu abadi sepanjang masa.
Filsafat semakin berarti ketika kita tak mampu merenungi secara mendalam mengenai : ada dan tiada. Meskipun ini bukan jawaban final. Tetapi filsafat mengajarkan kita bagaimana manusia--se-(sadar-sadarnya) menggugah perasaan kita untuk selalu bersiap merayakan keberadaan dari sesuatu yang 'ada' dan meratapi ketiadaan: tiada.
Whitney Houston, penyanyi terkenal pada masanya, bersenandung lembut menggambarkan perasaan itu lewat tembangnya berjudul, one moment in time :
I'm only one but not alone
(Aku memang satu tapi tidak sendiri)
My finest day is yet unknown
(Hari terindahku belum diketahui).
Kesuksesan hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak yang mereguk manfaat atas tindakan kita. Hidup bukan tentang kesempatan yang harus kita rengkuh. Tetapi seberapa sering kesempatan itu menjadi pembelajaran bagi kita.
Merenungi 'ada' dan 'tiada' tak pernah sampai pada batas final. Ia bagai air: senantiasa mengalir. Terus menjadi ruang yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan untuk memaknai hidup.
Sehingga tak heran, klaim bahwa ada dan tiada itu sama saja. Kedua-duanya mesti ada, karena kehendak sang pencipta. Kita hadir: ada untuk tiada. Keduanya sama sekali tidak saling membenturkan, karena Tuhan mendesign : agar berjalan seimbang; harmonis; selaras.
Di sinilah makna hidup.
Filsafat timur dalam konsep Impermanensi menguraikan: Segala sesuatu yang ada sedang berjalan menuju ketiadaan. Lihatlah bunga mekar yang tumbuh di halaman rumahmu tak kehilangan keindahannya hanya karena ia akan layu esok hari. Justru karena keindahannya (mekar) yang bersifat sementara itu mekar sebagai sesuatu yang sangat berharga. Keberadaan ada agar realitas dapat mengalami dirinya sendiri. Ketiadaan hanyalah proses kembali ke tempat asal sebelum wujud berikutnya muncul.
Baca juga : renungan-renungan tipis di awal tahun
Viktor Frankl menulis: keterbatasan waktu justru membuat keputusan kita bermakna. Jika hidup ini abadi, setiap tindakan bisa ditunda selamanya dan tidak ada pilihan yang terasa mendesak atau bernilai tinggi.
Penyanyi Utopia dengan suara bernada lirih berucap :
Kan selalu
Ku rasa hadirmu
Antara ada dan tiada
Begitulah. Perenungan tentang : 'ada' dan 'tiada' tak ada ujung dan tepi. Tetapi merenungkannya adalah bagian penting : memahami esensi hidup. Dan hidup harus dirayakan. Kebahagiaan, kesedihan harus: beradu cangkir kopi di setiap pertemuan.
Batulayar, 13.09.2026


Komentar
Posting Komentar