berorganisasi itu, wujud dari keberadaan manusia sesungguhnya. Sebab, mereka yang merealisasikan jati dirinya sebagai mahluk sosial. Inilah sejatinya manusia
PERTANYAAN yang saya ajukan sekaligus sebagai judul tulisan di atas--bagi saya menghendaki jawaban : Iya. Berorganisasi itu Penting. Penting banget guys.
Pernyataan Itu saya lontarkan kepada puluhan peserta, mahasiswa/i Fakultas Ekonomi yang menggelar acara Mubes HIMA EKIS, pada Jumat (30/10). Syukurnya saya, mereka turut hadir dalam kegiatan itu. Mau membesarkan organisasi di level Himpunan.
Lebih lanjut, karena dipersilahkan ngomong--sekaligus mewakil beberapa rekan dosen yang tak sempat hadir--saya menyampaikan beberapa point penting, perlunya berorganisasi. Organisasi apa saja, (sesuai yang anda inginkan). Yang penting organisasi itu punya tujuan positif.
Saya potret secara umum, mengapa organisasi penting. Pertama, berorganisasi itu, wujud dari keberadaan manusia sebagai mahluk sosial.
Ketika manusia, menenggelamkan diri dalam organisasi, secara tidak langsung ia telah menguatkan eksistensinya sebagai mahluk sosial.
Foto bersama mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi dan Keuangan Islam UNU NTB selepas acara pembukaan MUBES
Kedua, berorganisasi itu bagian dari anjuran agama. Kok bisa? Saya merujuk secara kontekstual pada Kalam Tuhan berikut; kurang lebih artinya seperti berikut :"Hendaklah ada di antara kalian yang menganjurkan adanya segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (QS. Ali 'Imran: 104).
Penerapan makna perintah Tuhan itu, dapat dilihat dan dibuktikan manakala sebuah organisasi, elemen di dalamnya, satu sama lain saling mendorong untuk kreatif, inovatif dalam kegiatan menebar kebaikan. Tetapi kemudian, kebaikan-kebaikan yang dimaksud tentu terwujud pada berbagai model organisasi.
Baca Juga : spirit maju untuk keluarga besar Fakultas ekonomi UNU NTB
Maksud saya begini: kalau organisasi-nya di level Himpunan, mahasiswa, atau sebut saja lingkungan kampus, maka kerja-kerja kebaikan yang dimaksud tidak lain dan tidak untuk action meningkatkan diri, mengembangkan diri agar memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai. Dengan kata lain, mereka membekali diri mereka sendiri (mahasiswa) sebagai modal untuk memperkuat kapasitas menuju level horison saat kembali ke masyarakat.
Baca juga : mimpi-mimpi dan kejadian yang memilukan di sekitar kita
Pada level, organisasi tertentu, misal di sebuah perusahaan, ormas lainnya-- pentingnya berorganisasi bertujuan untuk memperkuat gerakan dan dakwah menjadi terorganisir lebih terarah dan tertata.
Dengan berorganisasi, soliditas untuk cita-cita kebaikan bersama tak lain sebagai modal dan kekuatan. Dan ini sangat berharga. Kalau sudah ini bisa disiapkan, terwujudnya masyarakat Madani (al-mujtama al-madaniyah) bukan ilusi. Angan-angan. Apalagi mimpi.
Kalimat dari sahabat Baginda nabi, Ali bin Abi Thalib sungguh menarik. Sahabat yang dijuluki pintu ilmu itu menyatakan: "Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi". Alhasil, organisasi menjadi alat sistematis agar nilai-nilai kebaikan tidak statis.
Ketiga, memperbanyak saudara. Pandangan lain, prihal pentingnya berorganisasi, digambarkan dengan indah melalui syair yang ditulis As-Syair Ar-Radhi. Ia menulis puisi pendek berbunyi : "Rubba akhin lî lam talidhu ummî" (Bisa jadi aku memiliki seorang saudara yang tidak dilahirkan ibuku).
Syair itu secara eksplisit menegaskan bahwa melalui organisasi, kita bisa memperbanyak saudara, teman, sahabat. Banyak teman, banyak saudara, insya Allah rejeki ngikut. Relasi pun kian luas.
Bahwa melalui organisasi interaksi terjalin erat satu sama lain. Silaturahim bisa terus diperluas, kebaikan-kebaikan bisa diinisiasi dan diwujudkan.
Syair lain melukiskan tentang sahabat dan saudara yang terus bertambah melalui pertemuan (organisasi), : Rubba akhin laka lam talidhu ummuka). Kurang lebih, maknanya : "Bisa jadi, engkau memiliki seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu". Yang tentu saja kita dapatkan dalam interaksi dalam sebuah organisasi.
Akhir coretan, berorganisasi itu emang penting lho. Sepakat atau tidak itu terserah anda.
"Tidak apa-apa untuk tidak setuju dengan pemikiran atau pendapat yang saya ungkapkan. Itu tidak memberi Anda hak untuk menyangkal kebenaran apa pun yang mungkin saya lontarkan," ujar Ashley Lorenzana, seorang penulis lepas dari AS.
Hmm.
Batulayar, 31 Oktober 2026


Komentar
Posting Komentar