Nyampein Trik Ngelola Bisnis Padahal Gak Berduit, Apakah Salah?

 


Ilustrasi blog: dokumen pribadi



NYAMPEIN materi prihal trik ngelola keuangan dan keuntungan agar usaha menjadi lebih baik itu kadang terasa berat. Beratnya, yang menyampaikan belum kaya. Lebih berat lagi, yang berbicara belum punya usaha. Hah !


Tapi kalau kita harus nunggu kaya dulu, nunggu punya bisnis besar dulu, kapan kita bisa saling menebar manfaat?


Logikanya sama seperti ketika kita menyampaikan materi tentang kebaikan agar bisa masuk surga. Apakah kita harus masuk surga dulu baru boleh mengajak orang lain berbuat baik? Tentu tidak.


Jadi, ketika ada yang bilang, "Masa kamu menyampaikan materi bisnis, padahal kamu sendiri tidak punya bisnis?" atau "Masa kamu menyampaikan tentang cara masuk surga, padahal kamu sendiri belum pernah ke surga dan belum tentu masuk surga?", cara berpikir seperti itu keliru. Itu fallacy. Mindset seperti inilah yang perlu kita ubah.


**

Baca juga : catatan senggang malam ini 


Baik langsung saya tulis ulang apa yang saya utarakan saat diminta berbicara mengenai "Bagaimana mengelola modal dan keuntungan agar bisnis menjadi lebih baik".

Apa perlunya saya tulis? Biar apa yang saya sampaikan itu selalu saya ingat. Biar abadi. Bukankah menulis mengajarkan kita pada nilai keabadian?


**

Dalam kesempatan berbagi bersama peserta silaturahim klien empowerment binaan Yayasan Bumi Harapan Lombok, Rabu (04/10) saya menyampaikan bahwa dalam berbisnis, kita sering kali abai terhadap "resep" mengelola usaha agar termanajemen lebih baik. Saya sengaja tidak menyebutnya "resep sukses", karena sukses itu hasilnya, sementara resep adalah prosesnya.


Resep yang saya maksud adalah trik dan tips mengelola bisnis secara ideal, sebagaimana yang dibeberkan teori-teori bisnis dalam berbagai literatur.


Lalu, apakah ini terlalu teoritis? Menurut saya tidak. Teori itu penting. Teori bagi saya menjelma dalam bentuk wawasan, pengetahuan, dan pengalaman. Dan ketika seseorang memiliki ketiganya, berarti ia telah menyiapkan diri secara maksimal untuk membangun usahanya menjadi lebih baik.


Dalam paparan selanjutnya, saya membeberkan hal2 penting tentang trik mengelola modal/bisnis agar bisnis berjalan bagus.


Pertama, seorang pebisnis harus punya tiga celengan. Celengan pertama, untuk keuntungan (laba). Celengan kedua, untuk biaya operasional. Celengan ketiga, untuk nabung (saving).


Konkritnya begini: anda punya untung Rp 100 Ribu. Maka yang untung sejumlah itu harus dibagi ke tiga celengan itu sekian persen, sekian persen.


Kedua, modal harus tetap utuh. Maksudnya, bila kita punya modal usaha Rp 1.000.000, bagaimana modal itu bisa utuh sesuai target yang kita tentukan. Bila perlu secepat mungkin.


Ketiga, bisnis harus untung. Yah, betul, bisnis harus untung. Jika anda beli satu sachet kopi seharga Rp 1000K, mesti diupayakan terjual lebih dari harga beli. Keuntungan (laba) dalam ilmu bisnis/ ekonomi disebut sebagai "Nilai lebih (hasil) yang diperoleh dari modal yang diusahakan yaitu berupa selisih dari total pendapatan yang melebihi total biaya (total cost).


Keempat, nyatet. Catatan ini penting agar segala sesuatu yang 'keluar' dan 'masuk' terarsip dengan baik.


Kelima, selalu menghadirkan yang baru. Nah inilah yang sering kita dengar dan orang sebut: inovatif. Kata Drucker (1969), 

seorang penulis dan pakar manajemen--inovasi itu mencakup dua hal : inovasi produk dan inovasi skill.


Keenam, kerja keras. Tanpa kerja keras, sesuatu yang diinginkan sulit terwujud. Termasuk urusan bisnis. Kerja keras mutlak dibutuhkan.


Selanjutnya, trik biar modal nambah terus, setidaknya kita punya langkah-langkah berikut; (1) tetap nabung ; 2) jual barang yang cepet laku ; 3) jangan beli barang yang lebih dari tiga hari tidak laku.


**
Saat tulisan ini sedang saya buat, segelas kopi turut menemani. Ada energi yang luar biasa ketika menulis sembari nyeruput kopi. Udut. Hah !


Sesaat kemudian, terdengar suara, memanggilku. Ternyata si kecil.


"Untung tulisan ini udah jadi".


Aku mendehem.


Batulayar, 05 November 2026

Komentar