Ilustrasi, blog.
menepi sejenak menikmati malam, menyimak syahdu bisikan ombak, lalu duduk melingkar nyeruput kopi terkadang lebih menggoda untuk didatangi. Jauh lebih menggoda bila dibanding seabrek deadline yang menjanjikan pundi-pundi rupiah semata. Bukankah hidup tak sekedar hasrat memenuhi itu. Melainkan latihan kekuatan menundukkan ego agar tak mudah tersandera deru kapitalisme yang membabi buta?
TAK ayal, membuat kedua kaki ini tak tahan tuk melangkah. Malam itu: malam yang lain dari biasa. Jaket lusuh kesayangan yang membalut tubuhku pun, enggan kulepas.
Ya...Sabtu malam tertanggal (27/10) itu. Saya turut hadir dalam giat Makrab HIMAEI. Ini gawe setahun sekali. Ajang 'perjumpaan' keluarga besar Fakultas Ekonomi, Prodi Ekonomi dan Keuangan Islam, kampus Peradaban Bangsa UNU NTB.
Tak terasa, ini adalah Makrab kesekian kali yang saya ikuti sejak pertama kali diinisiasi oleh mahasiswa angkatan perdana 2015.
"Gak terasa ya, sudah sekian tahun terlewati?" celetuk saya pada seorang dosen di samping saya.
"Hmm... betul banget," jawabnya.
Waktu memang begitu cepat berlalu. Saya jadi teringat lirik lagu Dreamer yang dilantunkan Joey Tempest, vokalis Europe: _"Time passes by..."_ serasa cepat waktu berlalu. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Musim silih berganti.
Setahun terasa begitu singkat. Makrab tahun lalu (2025) rasanya baru kemarin, eh tiba-tiba sudah Makrab lagi. Malam itu. Tahun ini: 2026. "Makrab kemarin serasa baru kemarin ya," gumam saya dalam hati.
Malam itu saya datang lebih awal. Beberapa teman dosen berhalangan hadir, sebagian lainnya menyusul karena masih ada tugas kampus yang harus diselesaikan.
"Beliau-beliau insya Allah hadir," kata Ketua HIMAEI meyakinkan saya, "Kita mulai saja."
"Ayo," jawab saya.
Puluhan mahasiswa baru duduk bersila beralaskan terpal. Tak jauh dari tempat mereka duduk, terdengar gemuruh ombak yang seperti berteriak girang menyambut kedatangan kami dengan hangat. Deburannya terdengar merdu, membuat suasana yang semula hening menjadi setengah khusyuk.
Baca juga : renungan tentang (ada) dan (tiada)
Acara pembukaan pun dimulai dengan sambutan demi sambutan. Dimulai dari ketua pelaksana, lantunan kalam ilahi, sambutan dari BEM, hingga sambutan dari dosen. Saya mendapat bagian di sesi tersebut.
Terlepas dari apa namanya — sambutan atau bukan — saya menganggap sesi saya itu sekadar untuk memulai percakapan. Ada tiga poin yang saya sampaikan.
Pertama, tentang pentingnya aktif berorganisasi. Saya menggarisbawahi apa yang sebelumnya disampaikan Ketua BEM, yakni pentingnya mahasiswa baru untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Saya pun mendorong para MABA untuk mengembangkan diri, entah melalui BEM, himpunan mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa, komunitas, maupun organisasi eksternal.
MABA perlu tahu bahwa organisasi bukan sekadar kumpul-kumpul tanpa tujuan. Organisasi adalah ruang untuk berproses; tempat menempa diri dan mengembangkan potensi — sesuatu yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas yang terkadang jenuh dan membosankan, kecuali jika dosennya pandai membuat suasana kuliah menjadi menyenangkan.
Di dalam organisasi, mahasiswa belajar banyak hal: berbicara, berdiskusi, menyampaikan pendapat, memimpin rapat, mengelola kegiatan, bekerja sama, menyelesaikan konflik, membangun jejaring, bahkan belajar menerima kegagalan. Semua itu adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Kedua, anggaplah kampus sebagai rumah kedua. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat untuk tumbuh, belajar, menemukan kenyamanan, dan membangun masa depan. Begitu pula kampus.
Saya berharap perspektif ini dapat mengubah mindset mahasiswa. Jangan hanya memandang kampus sebagai tempat yang didatangi saat ada jadwal kuliah saja. Pandanglah kampus sebagai ruang kehidupan — ruang akademik sekaligus ruang sosial, tempat untuk belajar, bertemu, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan diri.
Di kampus kita menyerap ilmu dari dosen, menimba semangat dari pengalaman senior, belajar kerja sama dari teman, belajar kepemimpinan dari organisasi, bahkan belajar tentang kehidupan dari berbagai peristiwa yang kita alami sendiri. Karena itu, jangan hanya bertanya, "Apa yang akan saya dapatkan dari kampus?" Tapi mulailah bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan selama berada di kampus?" Dari sanalah akan lahir insan Ulil Albab — mahasiswa yang cerdas, aktif, dan produktif.
Ketiga, tentang tujuan utama kita: mencari ilmu. Pada akhirnya, kita berkumpul bukan sekadar untuk senang-senang atau gagah-gagahan menjadi mahasiswa dan berorganisasi. Semua proses itu bermuara pada satu tujuan penting: menuntut ilmu dan membangun diri agar menjadi insan unggul.
Saya kemudian mengingatkan satu hadis Baginda Rasul yang kebetulan masih saya hafal. Waman salaka thariqan yal tamisu fihii ilman. Sahhalallahu lahu bihi al-thariqan Ilal Al Jannah. "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
Bagi saya, nasehat Baginda Rasul itu relevan bagi kita yang kebetulan 'ngumpul' malam itu.
Jalan mencari ilmu memang tak selalu mudah. Ada tugas, ujian, rasa lelah, kegagalan, kebingungan, bahkan rasa ingin menyerah. Namun, setiap langkah yang ditempuh dalam rangka mencari ilmu tak lain bagian dari perjalanan yang berharga. Untuk itu, jangan sia-siakan saat-saat indah ketika mahasiswa.
Baca juga : Kampus terus berubah kenangan tiada bertepi
**
Malam kian larut. Dua jam lebih, tak terasa. Udara dingin mulai menyapa. Tetapi deru suara ombak yang tak henti berbisik seolah berujar, "malam masih panjang ....sepanjang angan-anganmu yang tak punya ujung dan tepi".
Saya bergeser. Segera undur diri: ingin pulang. Bukankah pulang adalah waktu yang paling indah ketika kamu sudah terlalu jauh melangkah.
Hmmm.
Batulayar, 28.09.2026

Komentar
Posting Komentar