Prinsip bisa mengalahkan segalanya




ilustrasi, blog


hidup bukan hanya soal apa yang kita bisa, tapi juga soal apa yang kita yakini benar


AKU melanjutkan lagi, tulisan yang sempat jeda, sebab waktu dan kesempatan, tak selalu bersahabat. Bukankah begitu saudara.

**


Di berugak itu, tersisa beberapa biji talas saat obrolan kami bertiga usai. Di berugak inilah saya sering menghabiskan waktu berjam-jam. Mengejar deadline pekerjaan. Ngarul-ngidul hal remeh-temeh. Menggosipkan hal serius, hingga bercerita penuh jenaka. Tentang masa depan. Tentang ritme hidup yang indah. Tentang keblusetan hidup yang saling berkait-kelindan. Tentang kenangan yang perlahan tenggelam seiring waktu.


Ah, kenangan. Kadang ia indah sesaat, bagai senja yang tenggelam di ujung barat.


Semua itu menunjukkan sesuatu yang paradoks. Sesuatu yang tampak bertentangan, tetapi justru di situlah terselip kebenaran. Mimpi yang tadinya mustahil, berbalik seratus delapan puluh derajat, lalu menjadi nyata.


Hidup memang begitu. Kadang kita punya banyak hal yang ingin diungkapkan, tapi hati berbisik pelan: "Ya sudah. Barangkali Tuhan lebih tahu."


Soal Prinsip

Mari kita kembali ke soal prinsip. Prinsip punya peran penting. Ia melekat dalam diri. Plato (427 SM-347 SM), filsuf kenamaan, memaknai prinsip sebagai proses belajar tentang kebaikan moral dan makna sejati dari kehadiran dan keberadaan. Karena itu, kata Plato, manusia perlu "menggembleng" karakter. Di sana akal budi, roh, dan hasrat harus berjalan seiring. Seperti pasangan sejoli yang setia pada janji.


Prinsiplah yang memandu seseorang memilih jalan: jalan kebaikan atau jalan keburukan.


Lain, Plato, lain pula filsuf kenamaan seperti Ray Dalio. Nama yang satu ini, dikenal sebagai pelanjut Steve Jobs. Dalam salah satu situs terkemuka, Ray Dalio dijuluki : Steve's Job of investing; the Oracle of bridgewater.

Kata, Dalio, prinsip itu aturan untuk hadapi realitas. Kalau merujuk ujaran Filsuf abad kekinian ini, agaknya prinsip bisa menjadi modal kuat untuk meraih sukses, hidup tenang.


Aku punya kesimpulan, dari dua pemikir itu, baik Dalio maupun Plato sama-sama bilang: Hidup tanpa prinsip adalah hidup yang diombang-ambingkan emosi dan keadaan. So, hiduplah dengan prinsip. Sebab, hidup dengan prinsip berarti kita punya kompas. Tujuannya terarah.


Oh ya, dari sekian banyak obrolan di berugak itu, satu hal yang terus muncul: prinsip mencari rezeki.


Prinsip Mencari Rezeki

Setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Ada prinsip memilih pasangan, prinsip memandang masalah hidup, dan ada juga prinsip mencari rezeki.


Karena beda prinsip itulah, kita tak perlu heran melihat sahabat, kerabat, atau orang lain memilih jalan hidupnya sendiri.


Anda bisa lihat sendiri. Banyak sarjana, master, bahkan doktor, memilih tidak bekerja sesuai bidangnya. Ada lulusan S1 yang memilih jadi kuli bangunan. Ada yang memilih jadi pedagang. Ada alumni pesantren yang justru jadi pemandu di Kota Suci Mekkah. Yang semestinya jadi tokoh agama, malah jadi pebisnis. Yang gelarnya cocok jadi dosen, malah memilih jadi peneliti, freelancer, dan lain-lain. Ragam sekali.


Kok bisa begitu? Ya, itulah prinsip. Pilihan profesi erat kaitannya dengan prinsip.


Profesi adalah jalan untuk mendapatkan pendapatan, memenuhi kebutuhan hidup. Dan pada titik inilah, satu orang dengan yang lain berbeda.


Baca juga : NEMU KEBENARAN TAK SEGAMPANG NEMUIN FOTO KENANGAN


Seorang kawan bercerita, ia lebih memilih jadi kuli bangunan. Padahal dari sisi kemampuan, ia sangat mumpuni. Sahabat lain bercerita ia baru saja mengundurkan diri dari PNS di rumah sakit terbesar di kota.


Mendengar itu saya geleng-geleng. "Orang berebutan masuk, kok dia malah keluar," gumam saya dalam hati.


Itulah potongan cerita yang berseliweran di warung kopi, di berugak. Gosip ringan yang hangat, setia menemani lingkaran yang bersila di atas tikar.


Jika ditelisik lebih dalam, prinsip mencari rezeki itu unik dan kompleks.


Unik, karena yang bukan bidang kita, justru bisa membuat kita "nyaman" di sana.


Kompleks, karena sering kali seseorang bekerja bukan hanya karena panggilan jiwa, tapi juga karena selera, karena paksaan keadaan, atau sesederhana: "yang penting ada yang dikerjakan."


Bagiku pribadi, terutama tentang pekerjaan, apapun itu sah sah saja. Asal itu halal. Caranya juga baik. Anda bebas memilih, tapi ingat kebebasan itu bukan berarti melepaskan nilai-nilai moralitas. Moralitas itu: "nilai tertinggi," kata Emanual Kant (1724-1804).


Pada akhirnya, prinsip memang bisa mengalahkan segalanya. Termasuk ijazah, gengsi, bahkan logika. Karena hidup bukan hanya soal apa yang kita bisa, tapi juga soal apa yang kita yakini benar.


**


Sejenak kami bertiga diam. Lebih satu jam kami ngarul ngidul tentang banyak hal. Kopi yang tadinya hangat, berubah dingin. Tinggal sisa : ampas saja. "Saya ijin duluan," kata kawanku tiba-tiba.


Mau jemput anak sekolah, katanya.


Diskusi pun bubar. Kami berpisah. Sebab, jalan yang kami tuju berbeda. Hah !.



21.31

Batulayar,  15 Juli 2026

Komentar