Kembali ke rumah sendiri

 


Ilustrasi, blog


Aku ingin terus memelihara pikiranku. Tak ingin membiarkannya kosong seperti rumah tak berpenghuni. Aku ingin pikiranku tetap hidup meski di ruang profan. Aku ingin pikiranku selalu berkecamuk dengan segala hal. Dan menulis adalah ruang bagi semua hasrat itu.


UDAH lumayan sering aku menulis. Meski tak setiap saat. Setiap hari. Atau tiap minggu. Tapi itu, nulis bebas. Sebuah tulisan yang tak terikat aturan.  Nulis apa saja. Sesukaku. Bukan nulis yang kental nuansa akademik. Bukan juga untuk tujuan naikin pangkat dan yang lain-lain. Pokoknya: menulis. Menulis. Menikmati hobi. Memotivasi diri. Dan saya menganggap, dengan nulis berarti saya membaca, saya belajar.


Menulis, kali pertama di sebuah bulletin. Bulletin itu--dulu, kondisinya kala itu tak ubahnya lahan kering yang hampir gersang, setelah sekian purnama ditiup badai dan pancaroba. Di situ, bersama kawan, saya menyirami kembali agar "bulletin" itu mekar seperti mawar merah. Bulletin itu saya hidupkan saat sempat mati suri waktu kuliah sembari aktif di UKM kampus KSR-PMI. Lalu menulis meski hanya sekali di bulletin Egaliter, salah satu lembaga pers mahasiswa. Saya terus belajar, terus mengasah kemampuan menulis di media nasional, seperti Lombok Post, Radar Lombok, Radar Bima (Jawa post group). Tak hanya itu, saya merambah kemampuan menulis di Group Bali Pos yang ada di NTB, yakni Suara NTB.


Di media suara NTB, saya rutin mengirim tulisan. Kalau dihitung-hitung, kurang lebih 15 Artikel yang pernah saya kirim dimuat.


Baca juga : Kata-kata itu kelewat sakti


Setelah sekian lama jeda, sebab koran ini tak lagi memuat rubrik Opini, saya mencari ruang untuk melanjutkan hobi saya dengan menulis di media online : Alif.id. Di flatform yang kontennya banyak diisi penulis-penulis hebat, senangnya bukan main, sebab 5 artikel saya pernah dimuat. Setelah itu, saya jeda sekian lama. Saya mencari ruang persemaian di tempat lain. Pernah juga saya menggagas buletin saat aktif di Yayasan. Buletin itu saya beri nama: Bulletin Kunci. Hanya bisa terbit dua edisi. Masih saya simpan hingga kini.


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tahun-tahun berjalan. Musim-musim berganti.


Dalam pada itu, perubahan terus terjadi. Teknologi kian canggih. Informasi begitu mudah kita peroleh. Melanjutkan hobi nulis makin mudah. Saya pun merambah media online lagi. Bersama beberapa kawan, kami menggagas media online. Tak lama, mati suri. Berkisar hanya satu tahun. Jeda lagi.


Muncul keinginan lagi. Membuat media online. Sebagai ruang persemaian gagasan. Tempat menorehkan ide dan gagasan. Kalau yang ini masih mending. Bisa bertahan hampir 4 tahun. Kembali perjuangan-perjuangan itu menemukan jalannya. Media itu, sudah tak aktif lagi berbagi cerita dengan pembaca.


**
Kisah proses, perjalan yang saya ulas di atas, terlihat seperti hanya sekedar saja. Berlalu begitu saja. Dengan kata lain : tak serius.  Tetapi bagi saya, bukan persoalan serius atau tak serius. Sebaliknya, dari situ kita belajar mengenai hakikat sebuah proses. Secara tidak langsung, kita bisa melatih, mendidik diri kita untuk tetap kuat dan konsisten berproses. "Mungkin ini, cara Tuhan mendidik diri saya," gumamku berkilah seribu alasan.


Ungkapan penulis Jeremy McGilvrey
seakan menemukan tempatnya dalam diri saya. "Jika kamu ingin menjadi lebih kuat dalam hidup, didiklah dirimu sendiri," ujar McGilvrey, pendiri agensi desain web dan pakar strategi itu.


Meski tak bisa membuat saya punya duit banyak dan mendapatkan keuntungan materi, tak ada yang saya sesali dari semua proses yang pernah saya lalui itu. Justru sebaliknya, bersyukur. Saya bisa belajar banyak hal. Dan inilah pelajaran nyata. Senyata-nyata proses. Saya jadi ingat kata-kata populer yang sering mampir di telinga: experience is the best teacher. Sebuah ungkapan yang saya yakin anda pernah dengar berulang kali.


Proses, perjalanan, yang setiap orang alami selalu terselip pesan, hikmah dan pelajaran, terlepas proses atau pengalaman itu baik atau buruk. Keduanya tak ubah dua sisi keping mata uang. Kata lainnya: setiap kejadian, baik atau buruk adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Dalam agama (Islam) yang kita elu-elukan itu menamainya: Qada dan Qadar. Sebagai muslim anda mesti percaya itu?


Blog ini saya jadikan tempat curhat. Tempat berbagi cerita. Kisah. Entah kisah suka, duka menyisakan lara. Juga kisah bahagia yang kadang fana. Tiada ujung dan tepi. Bagai ekskapisme bundaran bola yang tak ada ujung dan tepi


**


Aku, kembali lagi ke rumah sendiri. Menulis di dinding sendiri: blog yang telah lama saya asuh dan besarkan.


Ia saya jadikan tempat curhat. Tempat berbagi cerita. Kisah. Entah kisah suka, duka menyisakan lara. Juga kisah bahagia yang kadang fana. Tiada ujung dan tepi. Bagai ekskapisme bundaran bola yang tak ada ujung dan tepi, demikian kutulis kembali tuturan seorang penulis yang tak kuingat namanya.


Saya suka berbagi kisah dan cerita. Saya happy, jika setiap orang mau membuka diri dengan realitas kompleks perjalanan hidup setiap kita melalui kebiasaan membaca.


Saya mencintai aktivitas baca-tulis. Ah...saya teringat lagi ujaran Spann
(2003: 95) dalam karya mungilnya yang bilang, "Jangan tunggu sampai akhir hidup untuk melakukan apa yang kita cintai". Berangkat dari sinyalemen ini, yah....saya tetap dan selalu membuat oretan-oretan agar kisah itu abadi. Agar cerita itu tak cepat lenyap. Agar ide itu tak dihantam badai lalu menghilang.


Balik lagi soal baca dan tulis. Melalui kedua itulah manusia hidup dan berkembang. Manusia terus menciptakan peradaban-peradaban baru dalam kehidupannya. Tak heran, dikatakan bahwa masyarakat yang maju peradabannya yakni masyarakat yang kuat literasi (baca-tulisnya).


Di rumah (blog) ini, aku ingin terus memelihara pikiranku. Aku tidak ingin membiarkan pikiranku kosong seperti rumah tak berpenghuni. Aku ingin pikiranku tetap hidup meski di ruang profan. Aku ingin pikiranku selalu berkecamuk dengan segala hal. Aku ingin terus belajar menulis. Dengan menulis,--setidaknya aku merasa bahwa aku telah bersyukur atas anugerah Tuhan.


Tapi kadang hati berbisik lain. Aku tak ingin terus-terusan seperti ini. Aku harus merambah jejak-jejak yang kadang sulit dilewati kedua kaki ini untuk melangkah. Melangkah lebih jauh ke ruang pertapaan yang lebih sunyi lagi se-sunyi puisi. Sebuah jalan yang lain--jalan yang mungkin lebih teduh untuk saya lalui meski tak menjanjikan emas-berlian tetapi di situ kita bisa menenun harapan. Merangkai harapan, mimpi-mimpi. Berkhayal yang indah-indah dalam hidup yang diciptakan oleh yang maha indah. Sebagaimana tertulis dalam Asmaul al-husna: "Al-Jamal,".


Malam kian larut. Dingin mulai menyapa. Desir angin berhembus kencang. Aku beringsut dari tempat duduk semula. Segera masuk ke dalam (rumah). Rumah adalah simbol kebahagian. Bukankah sejauh mana pun kalian pergi, rumah adalah tempat kembali?


31.07.2026

Mataram-Batulayar






Komentar