Rabu pagi (24/6) itu agak beda. Mesti bergegas lebih awal. Tempat yang saya tuju, lumayan jauh. Butuh waktu satu jam. Kalau nge(but) mungkin jarak bisa diperpendek. Yang satu jam-bisa setengah jam. Bukan begitu? Hmm.
Memang, ke tempat yang agak jauh, waktu mesti diatur. Di jalan harus hati-hati. "Bukankah setengah nyawa anda terancam bila sedang dalam perjalanan?," kata istri pagi itu, sembari ngasi peringatan ke saya agar hati-hati. Gak nge-but.
Istri selalu bilang, "hati-hati jika bepergian jauh". Satu bentuk perhatian yang saya yakin, setiap suami-istri pasti bertukar kalimat itu--kalimat, "hati-hati di jalan"--saat masing-masing pamit berpergian. Waow.
**
Saat perjalanan, segarnya udara pagi kian menambah ghirah ke tempat yang saya tuju, meski sesak di jalan tak bisa dihindari.
Saya sempat berhenti saat ada macet. Udara yang tadinya segar, berubah jadi polusi. Ia serupa beningnya air yang ditetesi cairan hingga dalam sekejap berubah hitam pekat. Serbuan bunyi klakson memekikkan telinga. Deretan kendaraan berbagai jenis, berhenti. Pagi itu serasa antrian panjang di Pertamina. Kita menunggu. Ini pekerjaan membosankan. Semua kita merasa tak sreg dengan itu.
Setiba di lokasi panitia sudah menunggu. Emak-emak juga begitu. Mereka duduk bersila. Rapi. Wajah mereka tampak ceria. Garis senyum terlihat di wajah keriput. Maklum. Kan emak-emak. Mereka sudah beranak Pinak. "Mungkin sebagian mereka ada yang udah punya cucu," kata saya dalam hati. Huh !.
Akhirnya, mulai juga acara itu. Inilah catatan saya. Saya tulis, sambil menikmati segelas kopi. Berkali-kali nyulut sebatang rokok. Ah merokok...!!. Tapi mungkin benar kata orang, " gak merokok, gak seru". Tapi ungkapan lain ada yang bilang: sebatang rokok itu teman berfikir/sebatang untuk menenangkan jiwa.
Usaha berkah dalam bingkai ekonomi syariah
"Usaha berkah dalam bingkai ekonomi syariah"--Demikian tema kegiatan yang diusung Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB kali ini. Tema atau sebut saja, materi yang itu akan disampaikan sejumlah narasumber yang telah ditentukan pihak panitia kepada para anggota PNM Mekar di wilayah NTB. Untuk tahun ini, dilaksanakan merata. Sebelumnya, pernah juga dihelat. Kegiatan itu berjalan lancar. Sukses.
Tahun ini, saya kebagian juga turut serta ngobrolin tema itu kepada puluhan ibu-ibu binaan PNM Mekar di Kecamatan Batu Keliang Kab Loteng. Yaa....ah sekedar jadi pemantik diskusi.
**
Kembali ke soal tema di atas, "Usaha berkah dalam bingkai ekonomi syariah". Pertanyaannya : kalau usaha yang dijalankan tidak berdasar pada nilai syariah, apakah berkah? Ini tanya, sekaligus kritik.
Bagi saya yang beragama Islam, tentu saja: tidak. Bukan bisnis anda saja, tetapi apapun yang anda lakukan jika tak didasari prinsip syariah sama sekali tak ada manfaat.
Kok bisa? Iya.
Kita telisik dari sisi ontologi. Manusia ini siapa sih? Siapa yang nyiptakan dia?
Kan manusia diciptakan Tuhan, Allah rabbul Izzah. Maka otomatis manusia harus patuh dan tunduk terhadap aturan Tuhan. Zat yang menciptakan. Ketika Tuhan punya cara untuk mengatur dan menentukan apa yang diciptakan : itu kan hak-haknya sang pencipta. Jadi, benarlah bahwa mengikuti dan melaksanakan prinsip syariah dalam aktivitas ekonomi, memiliki nilai keberkahan. Berkah ini kan kebermanfaatan, peningkatan. Dan hal ini bisa dicapai bila prosedur, praktik bisnis yang dijalankan tahapan berlandaskan nilai-nilai syariah.
Maka, tak ada alasan untuk menolak bahwa seluruh aktivitas sosial ekonomi mesti didasari nilai-nilai syariah. Ini semua tak lain sebagai petunjuk. Dalam kaitan ini, menarik mengetengahkan apa yang ditemukan ekonomi Anas Zarqa (1976). Dikatakannya, bahwa ptunjuk-petunjuk tersebut bertujuan menyelamatkan manusia dari kerugian lantaran keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri. Yang mana, manusia juga kerap sombong dan mementingkan nafsunya.
Bimbingan Ilahi, sambung profesor madya kala itu, dalam satu makalahnya bertajuk, "Ekonomi Islam: Pendekatan terhadap Kesejahteraan Manusia" mengungkapkan bahwa melalui petunjuk/bimbingan tersebut, memungkinkan manusia melaksanakan seluruh aktivitas sosial ekonominya secara benar dalam usaha sosial dan intelektualnya.
Zarqa menegaskan, bahwa bimbingan itu tidak dimaksudkan untuk menghambat atau menggantikan usaha-usaha tersebut yang merupakan bagian penting dari misi manusia di bumi.
Beribadah melalui Jalan Bisnis
Berikut point-point penting yang saya sampaikan pada peserta kegiatan. Point penting materi ini disediakan panitia untuk disampaikan seluruh narasumber. "Panitia ingin materi yang disampaikan seragam," pikirku.
Bentuk penghambatan manusia kepada Tuhannya,
Ekonomi Syariah dan Bisnis Kecil: Jalan Menuju Keberkahan dan Kemandirian.
Di tengah perkembangan ekonomi modern, ekonomi syariah hadir sebagai sistem yang tak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga menekankan nilai keadilan, keberkahan, dan kesejahteraan bersama. Dalam kacamata Islam, aktivitas ekonomi merupakan bagian dari ibadah. Karena itu, mesti dijalankan secara jujur, adil, dan tidak merugikan pihak lain. Untuk itu, setiap transaksi, mulai dari jual beli, pembiayaan, hingga investasi, harus berlandaskan prinsip-prinsip syariah yang menjunjung tinggi kemaslahatan masyarakat.
Bagi pelaku usaha kecil, prinsip ekonomi syariah sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Islam memandang usaha kecil sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki yang halal sekaligus memberikan manfaat bagi sesama. Produk yang dipasarkan tidak hanya harus halal, tetapi juga thayyib—baik, aman, dan diproses secara transparan. Selain itu, pelaku usaha dituntut untuk menjaga integritas, berlaku jujur dalam transaksi, serta menyisihkan sebagian hartanya melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud tanggung jawab sosial.
Namun, banyak usaha kecil yang mengalami kesulitan berkembang bukan karena kurangnya pelanggan, melainkan karena lemahnya pengelolaan keuangan. Uang usaha sering bercampur dengan kebutuhan rumah tangga, tidak ada pencatatan pemasukan dan pengeluaran, serta keuntungan langsung dihabiskan tanpa perencanaan. Padahal, Islam mengajarkan prinsip amanah dalam mengelola harta.
Langkah sederhana seperti memisahkan uang usaha dan uang pribadi serta membiasakan pencatatan keuangan dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menghindari kerugian di masa depan.
Kisah sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, menjadi teladan nyata tentang semangat kewirausahaan dalam Islam. Berangkat dari kondisi tanpa harta saat hijrah ke Madinah, ia membangun usahanya dengan kejujuran, kerja keras, dan kemandirian hingga menjadi salah satu pedagang paling sukses pada masanya. Kisah ini mengajarkan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi juga oleh karakter, integritas, dan komitmen untuk menjalankan usaha sesuai nilai-nilai Islam.
Pada akhirnya, ekonomi syariah dan produk halal bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan jalan untuk membangun usaha yang berkelanjutan, bermanfaat, dan penuh keberkahan.
Batu Keliang-Mataram, 24 Juni 2026
Komentar
Posting Komentar