kebahagiaan tidak serta merta berada pada tujuan akhir, tapi terselip dalam proses kamu menikmatinya. Ada banyak hikmah di dalamnya. Kamu bisa belajar dari perjalanan, kegagalan, kesuksesan meraih sesuatu
Selamat tinggal 2025. Selamat datang 2026. Semoga mimpi dan harapan-harapan kita bertumbuh seperti pepohonan yang buahnya tinggal dipetik. Tak hanya menghadirkan keindahan, keteduhan. Tetapi buahnya bisa dinikmati siapa saja.
Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan Anda?
Jujur saja, saya mungkin saja sama dengan anda. Begitu banyak mimpi. Sekian banyak harapan dapat saya wujudkan tahun 2025. Mulai dari keinginan yang saya rencanakan juga keinginan di luar rencana. Rasa haru, bahagia, meliputi diri ini.
Tetapi ada juga perasaan kecewa. Kecewa ini dan itu. Tetapi sudahlah. Itu bagian dari warna-warni kehidupan. Serba-serbi proses menjalani. Itu adalah ledakan-ledakan yang bikin raga ini kuat. Semangat ini bangkit. Dan untuk hal ini, tak perlu kita respon secara ekstrim. Seperti kata pelatih legenda sepak bola AS, Lou Holtz, "Kehidupan adalah 10 persen apa yang terjadi terhadap Anda dan 90 persen adalah bagaimana Anda meresponnya".
Ingat anda harus yakin bahwa kekecewaan tak selalu menyakitkan. Malah, kekecewaan itu awal dari sesuatu yg membahagiakan. Di situlah rahasia sang pencipta.
Saya juga menyaksikan, mengalami pegalaman-pengalaman dari segenap proses sosial kehidupan yang saya jalani, kadang tampak memprihatinkan.
Keprihatinan itu seakan memukul pundak. Nyaris ingin berteriak sebegitu kencang hingga suara teriakan itu terdengar hingga langit ketujuh. Tapi bibir terasa kelu. Mulut serasa dibungkam. Suara 'teriakan' seperti tersapu angin kencang. Lalu hilang, lenyap entah di bawa 'terbang' ke mana?
Teriak beneran juga malas. Dikira 'sok' atau dinggap 'pahlawan kesiangan'. "Malu juga. Ntar orang-orang menertawakanmu," pikirku. Padahal tidak ada sama sekali orang yang akan menertawakanmu. Boleh jadi yang ketawa sedang memendam bara, dan kecewa akibat ia tak memperoleh apa-apa dari orang yang dielu-elukannya selama ini. Tetapi ia pura-pura. Senyum yang ia lemparkan, tak lain senyum kamuflase di bawah tekanan.
Hidup selalu menyediakan pilihan-pilihan: Antara yes or no? Tak ada pilihan lain kecuali berada di antara iya dan tidak. Inilah konsekuensi logis dari hidup. Kalaupun ada yang berseloroh, "saya jalan tengah saja", tetapi apapun dalilnya, ia tetap berada pada koridor " iya" dan "tidak".
Ada banyak lelucon, yang bikin kita tertawa. Ada banyak teka-teki tak terjawab. Hidup bagai eskapisme yang tak punya ujung dan tepi. Ia melingkar lingkar, tak ubahnya bola yang bundar. Ada banyak peristiwa-peristiwa mengejutkan. Terbentang luas harapan-harapan. Terbuka lebar peluang-peluang yang sayang sekali tidak dimanfaatkan.
Hidup harus kita jalani. Tuhan meng-amanahkan banyak hal kepada kita 'hambanya'. Amanah itu, untuk kita jaga, rawat dan pelihara. Fungsi dan tujuan manusia dicipta juga kan memang untuk itu: sebagai khalifah. Kita tak boleh cepet mengeluh. Tak baik juga terlalu jumawa. Kita tak seharusnya membenci. Sebaliknya menebar cinta dan kasih.
Baca juga : 2025 ➡️ 2026
Di awal tahun ini, kita berharap banyak. Terutama sukses melakukan banyak hal bermanfaat. Tapi sebenarnya bukan cuman itu. Melainkan mampu bertahan dari godaan-godaan yang melenggangkan kesuksesan semu. Dengan kata lain, anda boleh saja tampak begitu mudah dan gampang mendapatkan semua yang kamu inginkan, tetapi jangan lupa: boleh jadi itu jebakan. Lalai sedikit, membuat anda jatuh ke tebing kehancuran.
Di awal tahun kita berharap banyak hal. Raih dan kejer harapan itu, tapi?
Ada tapinya.
Apa?
Jangan joss terus di 2026. Sesekali nengok ke belakang. Ndongak ke atas. Atau nunduk sejenak. Ketika ini bisa kita kondisikan, berarti kita telah menyiapkan ruang optimisme yang meneduhkan jiwa dan bathin kita sebagai manusia yang kerap lupa, alpa. Selaras dengan pesan petuah bijak berikut : Sumber kekecewaan itu berada pada harapan berlebihan.
Teruslah menancapkan mimpi-mimpimu. Sediakan ruang optimisme untuk mewujudkannya. Bermimpilah. "Hanya ada satu hal yang membuat mimpi mustahil untuk dicapai: ketakutan akan kegagalan," ujar Paulo Coelho.

Komentar
Posting Komentar