Buku, Hujan Sore dan Anak-anak Yatim Piatu


Ngumpul bareng-bareng anak yatim dan piatu. Mendekatkan mereka untuk mencintai buku, pada Minggu (18/01/2026).


Bocah-bocah yang dalam foto ini semuanya anak yatim dan piatu. Beberapa dari mereka malah diasuh dan dirawat kakeknya. Mereka jauh dari kasih sayang ibu, bapak. Atau mungkin kedua orang tuanya tersebab lebih dulu dipanggil sang pencipta 




HUJAN sore. Maklum hari Minggu. Yah momen berlibur. Momen yang tak ingin begitu saja di biarkan berlalu, sia-sia.


Minggu yang ramai. Jalanan sesak. Orang lalu lalang. Tua muda asyik menikmati senggang (leisure time) mereka. Memenuhi padatnya jalur menuju Senggigi. Ada yang pulang. Yang pergi pun  tak terhitung jari. Mereka bersama keluarga. Pasangan suami istri. Atau mungkin juga mereka kaum muda yang baru jadian dengan kekasihnya. Aduhai, asyiknya bertabur gerimis sore itu.


Dari serawut wajah. Tak tampak mereka cemas lantaran basah kuyup. Meski tubuh yang dingin dibasuh air hujan sore itu, wajah mereka tampak berseri.


Tak banyak orang terhenti lantaran hujan turun. Tak membuat langkah terhalang tuk sekedar menikmati perjalanan. Tuk sekedar menikmati indahnya hujan sore itu. Juga tuk menikmati suasana menuju tujuan masing-masing. Bukankah dalam hidup setiap orang punya tujuan?


Saya juga begitu. Hujan sore itu tak membuat semangat saya kendor untuk ngumpul bareng anak-anak yatim di salah satu dusun di Desa Batulayar Barat.


Ngumpul bareng anak yatim piatu ini jauh jauh hari saya agendakan dengan seorang sahabat. Melalui salah satu lembaga Komunitas Literasi Intisa--sebuah lembaga bentukan Yayasan Inisiatif Bakti Nusa (Intisa). 


Meski setengah basah, Alhamdulillah tujuan sampai. Bocah-bocah usia sekolah dasar sudah menunggu.


Tanpa buang-buang waktu, kami masuk ruangan milik seorang sahabat. Tidak mewah dan wah. Tetapi cukup menampung kami. Di situ, kami membuka-buka sejumlah buku cerita yang saya bawa. Seketika bocah-bocah itu bengong.


"Ada yang tahu buku apa saya bawa"? Tanya saya kepada mereka.


Buku, kata mereka terbata-bata.

"Yuk buku apa," tanya saya lagi.


Suasana sunyi. Sepi. Rintik hujan yang jatuh membuyarkan suasana. Seketika sunyi-sepi lenyap entah kemana?


Sesaat kemudian saya mengenalkan kepada mereka buku-buku yang saya bawa. Mulai dari judul, nama penulis dan jumlah halaman buku. Juga isi cerita.


Beberapa menit kemudian, saya sisakan waktu untuk mereka membuka lembar demi lembar beberapa buku itu.


Sesaat kemudian, begitu saya tanya balik, sebagian dari mereka serempak merespon. Sisanya diam membisu. Mungkin mereka masih malu. Mungkin mereka belum terbiasa dipenuhi dengan buku-buku.


BACA JUGA : Renungan-renungan tipis di awal tahun


Kita perlu mengajak anak dekat dengan buku. Mengenalkan pada mereka pentingnya membaca. Mencintai buku itu, setali tiga uang, "mencintai ilmu pengetahuan". Dengan kata lain: mengajak mereka mencintai ilmu. Ilmu pengetahuan itu, cahaya menyusuri kehidupan ini.


**

Saya juga meminta mereka untuk maju memperkenalkan diri satu sama lain. Sesekali saya membenarkan kalimat-kalimat bahasa Indonesia mereka yang masih terbiasa berbicara dengan bahasa ibu.


Tak kurang dari satu jam kami tenggelam dengan beberapa buku yang saya bawa. Mereka berbicara, cerita sama lain.


Ada yang menarik dari pertemuan sore itu.


Bocah-bocah itu semuanya anak yatim dan piatu. Beberapa dari mereka malah diasuh dan dirawat oleh kakeknya. "Kasihan," lirihku dalam hati. Mereka tentu jauh dari kasih sayang ibu, bapak. Atau mungkin kedua orang tuanya. Subhanallah.


Bertemu mereka, perasaan ini 'campur baur'. Bahagia di satu sisi. Terharu dan   meneteskan air mata di sisi lain.


Bahagia karena melihat mereka masih bisa tersenyum manis. Sedih dan haru lantaran mereka tak hidup, layaknya bocah-bocah seusia di sekeliling mereka yang dipenuhi kasih sayang dan cinta kedua ibu bapak. Sebab ibu, atau mungkin kedua-duanya dipanggil lebih dulu oleh sang pencipta. 


Semua mereka, bocah-bocah itu hidup dalam keterbatasan. Terbatas kasih sayang. Terbatas akses pendidikan berkualitas. Terbatas akses kesehatan. Juga keterbatasan-keterbatasan yang lain yang membuat hati ini tak mampu berkata-kata.


Begitu seseorang menerima keterbatasan, kita hendaknya mampu mendorong anak-anak generasi muda untuk melampaui keterbatasan



Tugas orang berlebih dan peduli terhadap kemanusian untuk mendorong mereka berkembang. Mendorong mereka untuk--Resiliensi. Yang dalam istilah Psikologis yakni : mendorong mereka mampu untuk bangkit kembali dan berkembang positif di tengah keterbatasan.


Atau seperti diucap Fisikawan terkenal, Albert Einstin, "Begitu seseorang menerima keterbatasan, kita hendaknya mampu mendorong anak-anak generasi muda untuk melampaui keterbatasan tersebut". Atau setidaknya membawa mereka, bocah-bocah yang serba terbatas itu tidak terjebak pada masa depan suram. Juga perilaku buruk. Inilah barangkali yang ditakutkan Scott Hamoments--seorang penulis yang juga atlet terkenal ketika berujar, "Satu-satunya keterbatasan dalam hidup adalah perilaku yang buruk". Dus, untuk hal ini, diperlukan upaya dan kerja-kerja konkrit semua kita.


Akhirnya, saya hanya bisa diam. Lalu bergumam, semoga mereka menjadi anak-anak yang soleh solehah.


Batulayar, 18 Januari 2026

Komentar