Kampus Terus Berubah, Kenangan Tiada Bertepi

 


Gambar pemanis


Terkadang kamu tidak akan pernah tahu nilai sebenarnya dari sebuah momen sampai itu menjadi sebuah kenangan (Theodor Seuss Geisel)



LAMA tak menginjakkan kaki di kampus ini. Saya tak ingat kapan terakhir singgah? Oh ya, dulu STAIN. Lalu IAIN. Kini UIN. Semua berubah. Bangunan-bangunan mewah berdiri kokoh.


Suer...Tak ada rencana sama sekali. Apalagi  terbersit sedikitpun di kepala. Tapi siang itu entah kenapa? Waktu membawa langkah kaki kami ke kampus Islam terbesar di NTB. Tiba-tiba, dan begitu cepat.


Begitu di areal kampus negeri yang kini dihuni puluhan guru besar itu, di titik-titik tertentu, aneka pohon tumbuh.  Sebagian berukuran tinggi. Sebagiannya lagi setinggi badan. Sisanya, bunga-bunga ber-pot. Dipajang di sudut tertentu. Tuk mempercantik suasana. Di ruang lobi, berjejer piagam, plakat.


"Itu piagam yang saya dapet saat jadi pengurus BEM," kenang seorang kawan sembari menunjuk piagam.



Gambar pemanis


Warna piagam itu hampir lusuh ditelan usia. Di sebelahnya, jarak semeter dari deretan aneka piagam, kulihat rak 'buku' ukuran mini. Panjangnya, kira-kira setinggi badan penjaga gawang favorit saya, Gianluigi Buffon. Penjaga gawang ganteng yang sempat mendunia di masanya. Buku itu hanya beberapa. Ia terlihat masih mulus. Mungkin, jarang dipegang? Atau dibaca? Atau mungkin buku itu dipajang kemarin sore, hingga semulus itu?. Pikirku. 


Bukankah, "Membaca bagi pikiran seperti olahraga bagi tubuh".?  Atau seperti diucap Joseph Addison, seorang penyair sekaligus politisi Inggris dengan kalimat berikut : membaca adalah alat paling dasar untuk meraih hidup yang baik."


Saya sempat ingin menyapa deretan buku itu. Sayangnya, orang yang saya cari keburu datang.


Kami diskusi. Kami bicara cas-cus. Tapi langsung ke persoalan. Waktu tak banyak. Sekian orang sudah menunggu.


Tak banyak, dosen-dosen yang sempat mengajar saya terlihat wajahnya. Atau sekadar wara-wiri menenteng buku, kitab, di hadapan saya, sesaat sebelum masuk kelas kuliah kami waktu iti. Kini, rerata orang baru semua. Apa kabar dosen-dosen saya, saat saya jadi mahasiswa. Semoga beliau sehat-sehat Selalu diberkahi sang pencipta. Semoga beliau sudah profesor semua.


Tapi begitu keluar dari ruangan full ac, Saya berpapasan. Cuma satu orang. Saya menegurnya. Kami salaman. Saya mencium telapak tangannya penuh takzim. Dalam hati tak lupa mendoakannya.


Semoga pertemuan bawa berkah. Maju dan berkembang terus UINMA.


Tapi satu hal: moga tiap tahun Camaba tak diborong terus. Kuatirnya kampus-kampus swasta bisa gulung tikar. Akibat nol mahasiswa/i. Berkaitan ini, pemerintah mesti turun tangan. Harus ada regulasi yang tepat. Kebijakan-kebijakan tak hanya melangit tetapi membumi.


Baca juga : Menggapai makna Hidup, Merayakan Kecewa dan Bahagia


Kembali soal kehidupan kampus. Terutama bagi anda (siapa saja) yang pernah mencicipi dunia perkuliahan.


Asyiknya pernah menjadi mahasiswa-mahasiswi. Agaknya sedikit merugi: mereka yang tak pernah merasakan dunia kampus. Terlebih bagi anak-anak muda yang secara ekonomi memiliki kemampuan untuk menempuh pendidikan ke level yang lebih tinggi. Saya teringat satu kalimat menarik bilang begini : dari satu juta orang yang menempuh pendidikan, hanya satu orang yang gagal karena tersandung biaya. 


Baca juga : Rabu berkah, emak-emak dan anak muda


Semoga bisa memotivasi.


Oh...mentari kian terik di siang itu. Azan zuhur berkumandang. Kami bertiga segera bergeser. Ada hal lain, yang juga lebih penting untuk kami selesaikan. 

Komentar