Gambar pemanis
Sebagai insan yang beragama dan beriman, tentu sekali, setiap kali ingat Tuhan, kita pasti berusaha untuk selalu berbuat baik. Inilah kekuatan besar dari perilaku etis yang memiliki ukuran moral. Tapi, sayangnya, dalam realitas keseharian kita sering lupa
SAYUP sayup terdengar suara itu. Ia diceritakan terbata-bata si pantakziah. Suara parau dari si pentakziah menggema. Saya yang ikut mengantar jenazah sore itu terdiam. Sesekali menggeleng. Berkali-kali saya sempat tertegun.
Saya mendengar apa yang disampaikan penatkziah. Kata demi kata menusuk bathin. Untaian kalimat menghujam ke jiwa. Dalam, dalam sekali, sedalam samudera.
Segerombolan anak-anak yang kerap membunuh waktu di sudut-sudut gank di desa nun jauh di sana itu menangis. Derasnya kucuran air mata yang jatuh membuat pipinya yang halus dan lembut terpaksa basah.
Langkah pria separuh baya yang hendak ziarah ke rumah duka, terhenti seketika. "Kenapa kalian menangis?," tanya pria separuh baya itu pada segerombolan bocah. Tawa riang mereka yang asyik bermain, spontan terhenti. Sore itu mereka membunuh waktu sembari menunggu mentari terbenam. Ouhh…indahnya masa kecil.
Bocah ingusan itu terdiam. Ia sela air mata yang jatuh dengan jari-jarinya yang mungil. "Kami menangis karena ditinggal sama orang yang sering ngasi kami uang," kata bocah itu serempak. Siapa lagi yang ngasi kami uang, jika paman itu sudah tak ada lagi, sambung bocah yang lain, menyatakan rasa 'kehilangan'.
Suasana hening. Lelaki paruh baya itu terdiam. Deru suara angin sore yang dingin kian menambah sunyi. Ada perasaan tak biasa. Tak mau hanyut dalam kesedihan itu, Pria itu melanjutkan langkahnya.
Kebaikan
Kebaikan selalu menyisakan doa, dari orang-orang yang secara langsung pernah merasakan. Kebaikan selalu menyisakan rasa 'kehilangan'. Kebaikan abadi. Tersebab dikenang terus menerus. Kebaikan itu lahir dari hati tulus. Saat kalian menabur benih 'kebaikan' secara langsung seseorang telah berbuat baik pada dirinya sendiri. Allah Swt menguraikan dengan sangat apik nan indah melalui surah Al-Isra ayat 7: "Jika berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, kerugian dari kejahatan itu akan kembali pada dirimu sendiri.”
BACA JUGA : Perempuan itu dan kabar kematian yang setiap saat kita dengar
Saya teringat kalimat Ali Bin Abi Thalib : "Perbuatan-perbuatan yang baik akan memperbanyak nikmat dan menolak balak." Sinyalemem salah satu sahabat nabi yang mulia itu memberitahu kita kepada kita bahwa Kebaikan sebagai sesuatu yang dahsyat. Ia bisa menjadi senjata menolak bala. Ia serupa tongkat nabi Musa yang memecah lautan. Karena itu, agama seakan mendesakkan seseorang untuk selalu berbuat baik tanpa tedeng aling-aling. Agama mendesak seseorang untuk berbuat terhadap siapa saja. Desakan ini logis, karena seseorang tidak tahu sama sekali ajal yang datang merenggut setiap mahluk bernyawa setiap saat.
Dahsyatnya suatu 'kebaikan' itu mengandung moralitas. Moralitas itu berada di posisi paling tinggi. Immanuel Kant (1724–1804) seorang filsuf menyatakan: moralitas itulah sumber tertinggi nilai-nilai kehidupan. Kata lainnya, kebaikan yang begitu syarat nilai moral harus diejawantah setiap manusia dalam kehidupannya. Bahkan dikatakan, nilai nilai moral merupakan kewajiban. Kewajiban adalah prinsip yang memandu tindakan kita. Kewajiban merupakan keharusan dalam artian memberi tahu kita apa yang mesti dilakukan, dan sesuatu yang mesti dihindari.
Lalu, dengan tegas Kant menyatakan konsep moral "kewajiban" dan "itikad baik" membuat iya selalu percaya bahwa kita bebas dan otonom untuk mau berbuat baik selama moralitas itu sendiri bukanlah ilusi.
Kematian meninggalkan kebaikan
Baik orang-orang (entah dikenal atau tidak), saudara-saudara kita, bila dipanggil sang pemilik semesta, lalu kepergiannya meninggalkan kebaikan, sungguh mereka beruntung. Kita patut bahagia.
Atas kebaikannya itu, kepergian mereka pasti terus dikenang. "Kebaikan dikenang, kejahatan diperangi,” demikian ucapan yang barangkali pernah kita dengar. Ungkapan ini menekankan pentingnya mengingat dan terus menebar dan mempromosikan kebaikan, serta melawan dan mengatasi kejahatan. Secara gamblang ungkapan bijak itu, mendorong kita untuk—di satu sisi, diajak menghargai dan mengenang perbuatan baik. Di sisi lain, melawan dan mengatasi perbuatan jahat yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.
Tapi memang, hidup kerap menyediakan banyak pilihan. Mau berbuat ‘baik’ atau ‘buruk’ pada sesama. Ini suatu dilema yang memberikan manusia kebebasan : bagaimana setiap manusia menjalani hidup terlebih dihadapkan pada fenomena kematian. Tapi yang haq, kehidupan kita pasti menjadi sebuah refleksi ketika dihadapkan pada kematian. Kematian tak lain permintaan pertanggungjawaban Tuhan pada hambanya. Lebih dari itu, menarik uraian Thomas Koten ketika menulis, logika moralnya adalah karena kematian itu sebuah kepastian, maka hidup baik sebagai orang beriman, adalah sebuah kemestian yang harus diperjuangkan. “Hidup baik selalu mengacu pada ukuran moral. Dan semua ini hanyalah bahwa kita ingat dan takut akan Tuhan,” ujarnya.
Sebagai orang beragama dan beriman, tentu sekali, setiap kali ingat akan Tuhan, kita pasti berusaha untuk selalu berbuat baik kan?. Inilah kekuatan besar dari perilaku etis yang memiliki ukuran moral.
Sayangnya, dalam realitas keseharian kita tidak begitu. Religiusitas dan renungan-renungan teologis serta pemahaman tentang kehidupan, terpisah dari moralitas dan rambu-rambu etisnya. Padahal, kepercayaan religius menopang moralitas. Dan hidup dengan ukuran moralitas tinggi sebagai cermin dari dalamnya pemahaman teologis dan tingginya pengenalan akan Tuhan. Jadi, seorang beragama mestinya lebih mempertimbangkan moralitas. Maka, dalam untung dan malang, dalam kegagalan dan kesuksesan, dalam kesendirian dan dalam popularitas semestinya menjadi moral force. Berangkat dari keimanan terhadap Tuhan, seharusnya berdampak pada perbaikan moral. Sebuah pergulatan anak manusia dengan sesamanya, selama hidupnya.
Akhirnya, Kembali lagi kepada setiap kita masing-masing. Semua tergantung pada setiap manusia, apakah hidupnya berusaha menebar kebaikan, atau malah sebaliknya melakukan berbagai cara secara membabi buta?. Kiranya kita semua, hidup dalam kerangka perilaku etis, yang merupakan bagian dari moralitas itu sendiri. Moralitas tak lain, cermin atas betapa dalam pemahaman seseorang akan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Wallahu subhanahuwa ta’al a’lam.
Batulayar, 23 September 2025

Komentar
Posting Komentar