Bermedsos ria, mengejar makna (produktifitas) sehari-hari

 


Ilustrasi pemanis


saat kita belajar produktif, tak diduga kita menguasai skill. Lalu ini modal kita melakukan sesuatu yang bermakna



SEKIAN lama punya akun facebook, dalam rentang beberapa bulan terakhir, saya ngerasa lama tak bikin postingan, status dan lainnya di efbi. Entah kenapa?. Tetiba ingin rehat sejenak? Bukan off sama sekali.


Akibat dari 'lama' nggak bikin postingan dan status, saya ngerasa tidak produktif. Saya ngerasa seperti jadi penonton to'. Tak ubahnya penonton sepak bola. Bisanya teriak, bersorak sorai saja. Dari luar arena. Terus terpukau ngelihat lihai nan lincah memainkan si kulit bundar. Tapi, yang saya singgung ini khusus main efbi lho.


Baca : Perempuan itu dan kabar kematian yang setiap saat kita dengar



Saya juga seperti ngelihat orang yang setiap pagi menikmati olahraga pagi agar segar bugar. Sementara saya, hanya diam menopang dagu. Memandangi mereka yang sekedar jogging, lari-lari dan aktivitas gerak kecil yang lain. Duh...betapa happy-nya mereka. Seketika saya teringat kata Adi, seorang bos tukang cat hebat yang saya kenal. Saat ngobrol Adi bilang, setiap pagi saya harus ngeluangin waktu tuk olahraga sepeda. "Yaaah,,biar bisa jaga kesehatan tubuh," ujarnya.


Ternyata orang-orang kelas menengah ke bawah bisa mikir jaga kesehatan tubuh, melalui olahraga.


Tentang diri ini, (perasaan) saya yang terbatas 'jadi penonton'--Itu perasaan saya saja sich. Bagaimana dengan orang yang gak main medsos? Atau mungkin nggak punya akun sama sekali? Hah !.


Soal itu sich, saya nggak terlalu urus. Gak terlalu care. Itu kan urusan orang. Beda orang, beda cara mikirnya. Kan setiap orang punya cara sendiri. Tiap orang punya kebiasaan untuk ngerasa happy. Juga cara memacu semangat produktifitas.


Kata Franz Kafka (1883-1924) ikhwal produktivitas, yakni kemampuan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah bisa Anda lakukan.


Ungkapan Kafka--seorang novelis dan penulis berpengaruh yang saya cuplik itu ngasi gambaran ke kita : produktivitas bukan sebatas ngelakuin hal yang sama lalu berharap kemajuan.


Dengan kata lain, saat seseorang belajar untuk bisa produktif, maka kita mendapati satu kemampuan untuk mencapai hal-hal yang sebelumnya di luar dugaan. Pendek kata, seseorang memperoleh skill baru untuk mengatasi sesuatu yang sebelumnya tak bisa anda atasi sendiri.


Balik lagi soal efbi. Sebenarnya, dibilang gak produktif, gak juga. Tapi yang saya maksud tak produktif, produktif di luar kerjaan saya. Simpelnya : saya tak bisa mengekspose diri di luar apa yang saya lakuin sehari-hari.


Apa ada problem?, tanya seorang sahabat. Tak ada, kata saya. Saya cuma coba menepi saja. Mungkin, jika saya menepi, saya menemukan sesuatu di luar apa yang saya tak lihat, saksikan. Sebaliknya juga begitu.


Rasa-rasanya cocokologi juga, ketika tak melulu buka efbi, pikir saya. Misalnya, saya lebih rajin baca buku. Saya lebih fokus ngerjain job-job yang deadlinenya terbatas.


Lalu benarkah, kalau nggak medsosan, bikin gak produktif?


Tergantung. Toh juga kalau sekedar posting-posting tanpa tujuan jelas, kan bisa bikin anda rugi. Ayo apa yang anda dapatkan coba?


Tapi kembali ke anda. Itu urusan anda.

Akhirnya, kita perlu sadar, produktivitas bukan hanya tentang memposting di Efbi, tapi juga tentang melakukan hal-hal yang lebih bermakna.


Kembali kuseruput kopi malam ini. Di luar sana, suara berisik mengusik. Angin berhembus membawa dingin. Malam kian larut. Catatan ini kuakhiri. Esok kan harus bangun pagi. Lalu siap-siap olahraga pagi. Keciap suara burung bersahutan. Mentari dari timur tersenyum membagi hangat. Pasti lari pagi tambah semangat.


Batulayar, 06 September 2025

Komentar