Langsung ke konten utama

Menulis Ingatan



SAYA lupa kapan tepatnya kenal tiga orang dalam foto ini. Satu berada di belakang saya. Duanya lagi, duduk depan saya membiarkan tubuhnya rebah pada kaki yang sengaja kukuatkan biar tubuhnya merasa nyaman "bersandar".


Foto: Reza Firmansyah, Mashur, Zaki Amani dan Ramli

Seinget saya, kenal mereka sejak nimbrung di salah satu UKM IAIN Mataram dulu Ksr Iain Mataram. Sedang ada salah seorang kawan yang lebih senior, giring giring saya masuk KSR.

Yang terlihat memangku saya, namanya kak Eja. Dia salah satu senior yang sering ngajak saya ngopi di warung pojok. Sembari ngopi, saya kerapkali diajak berdiskusi. Dia juga sering menyisipi pesan ke saya agar saya bisa tampil depan khalayak. Trik-trik berdiskusi dan berdialektika juga sering saya digembleng. Orangnya santai. Cuek. Tapi isi kepalanya kaya dengan wacana dan pemikiran2 yang menggelitik. Tentu ini ia dapatkan dari proses: tekun membaca. Dialah orang yang pertama kali memotivasi saya menulis dan menggeret saya masuk di salah satu UKM yang concern dengan dunia jurnalistik. 

Banyak kenangan2 menarik dari dia. Jika ada waktu kemah baik di pantai atau di hutan lindung Sesaot saya sering diajak nyanyi dan main gitar. Dia pun mendendangkan tembang2 yang saya sukai. Saya ingat betul. Cukup lama tak sua dia kini. Sayangnya, saya hanya penikmat musik, tanpa pernah bisa melentikkan jari jemari saya pada alat musik yang satu ini.

Berikutnya, dua orang di depan saya. Dia Zaki Moochtar. Sehari hari kami menyapanya bom-bom. Seorang bom-bom ini kawan yang hebat. Dia dermawan. Dia supel. Tak hanya itu, dia juga pekerja keras. Selain itu orangnya humoris. Keahliannya meng-organize sejak dulu memang sudah tampak. Tak heran, beberapa event 'berkelas' baik di luar dan dalam negeri sukses terselenggara berkat kepalanya yang cerdas. Tangannya yang kreatif. Dua kata, kawanku ini: master E.O. 

Kini dia mapan. Kini dia bahagia bersama istri tercintanya. Dua bocah yang ia rawat, menjadi pelengkap ke (bahagia)an di hidupnya.

Terakhir Ramli Suhirman kawanku yang satu ini tak kalah kren. Jiwa kepemimpinannya jauh-jauh hari sudah tampak. Dia pejuang. Dia pekerja keras. Tak heran, sekitar tahun 2007 dia sukses menjadi leader salah satu UKM-BKM. Saya sendiri menjadi Sekjennya. Di masa kepemimpinannya, event berkelas nasional kali pertama kali digelar. Orang2 dari luar asal berbagai kampus di seluruh Indonesia berbondong2 datang ke Kampus Putih IAIN Mataram khususnya, dan NTB pada umumnya. Rektor pada masanya: hanya geleng2. Di awal2, kegiatan nasional itu sempat ingin digagalkan pihak kampus, tapi bukan seorang Ramli namanya jika ini digagalkan. 

Suksesnya kegiatan nasional itu tidak terlepas andil besar seorang Bom bom dan yang lebih penting lagi peran dan dukungan para senior, terutama yang jadi tim utama yang bimbing kami dalam technical meeting saat mahasiswa se-Indonesia berada di kampus IAIN Mataram. Tentu banyak lagi senior2 yang lain yang tak bisa saya sebut satu demi satu. 

Kini Ramli hidup bahagia bersama perempuan yang sangat ia cintai. Cintanya pun menghadirkan dua bocah di tengah2 kehidupannya. Dia juga kini jadi abdi negara. Karena dia PNS dan aktif di salah satu ormas besar Muhammadiyah, saya bisa prediksi ke depan, bukan tidak mungkin dia, suatu saat ia duduk menjadi leader di salah satu instansi pemerintah.

Selepas akan wisuda saya dengan tiga sahabat saya itu, berikut yang lain, pernah nyambi jadi tukang ketik dengan menggagas berdirinya Rental Komputer. Pahit-manis, suka-duka, pernah mampir dalam perjalan hidup memulai itu. 

Begitulah. Waktu berlalu. Waktu berjalan begitu cepat. Mengingatkan saya syair lagu milik Europ: "and time passes by".

Begitulah. Serasa cepat waktu berlalu. Kami berpisah. Kami melanjutkan cita-cita dan mimpi masing2. Ada yang aktif di LSM, di perusahaan. Dari kami ada yang melanjutkan sekolah dan mencari penghidupan. Kami berpisah ke mana takdir mengayun. Saya freelance di salah satu lembaga, lalu melanjutkan studi. Lalu entah ke mana. Kini jualan MADU.

Kini, cukup lama tak jumpa. Meski begitu, saya tak sedih. Saya tak pernah merasa sendiri, meski mereka tak lagi punya waktu untuk berencana ketemu. Saya mengerti, mereka punya kesibukan. Mereka punya tanggungjawab. Mereka punya obsesi yang harus mereka kejar. 

Tiap kita punya kebahagiaan sendiri2. Novelis Jerman Herman Hesse pernah berujar: "Juga kesunyian masing-masing," kata  Saya, dia dan orang-orang punya kebahagiaan sendiri-sendiri".

Yang penting sukses selalu. Sehat2 kita ya. Jangan lupa kita saling berkirim do'a (semua kita). Jangan lupa minum madu.

Akhir kata, betapa penting MENULIS INGATAN. Seperti coretan yang saya tulis ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

salon motor dan Bayang-bayang semu

saat service motor SAYA hanya bisa geleng2 melihat begitu lihai kiri-kanan tangan Hadi--si tukang salon motor, saat mendandani tunggangan sy tadi pagi. Saya singgah ke tempat itu, selepas mengantar anak sekolah. Sehari-hari, Hadi, menghabiskan waktu menyaloni puluhan motor, mobil, aneka merek. Halaman teras rumahnya, ia jadikan tempat berkreativitas. Tak heran, dia tak perlu buru2 dikejar waktu hanya utk berangkat ngantor. Rumah mungil dan sederhana itulah yg ia jadikan tempat mendulang pundi-pundi rupiah. Yg unik bagi saya, Hadi, tidak butuh atribut seperti plank nama untuk promosi tempat kerjanya seperti kita lihat kebanyakan tempat di sektor bisnis (barang-jasa). Dia menggeser simbol2 promosi yg kerap kamuflase, itu dg bukti konkrit (hasil kerja) dan trust dari ratusan pelanggan.  "Saya gak pasang plank saja, insya Allah banyak pelanggan yg datang. Bahkan sy kewalahan. Apalagi salon motor ini, saya bikinin plank," kata  pria yang alumnus salah satu pesantren di

KELUYURAN ; Ajang Menikmati Waktu Senggang

foto : desa wisata Sade KELUYURAN sekiter sini-sini saja selalu bikin saya terkesima. Terkesima dg keunikan budaya, kebiasaan, panorama alam dan yang lain-lain. Apalagi bisa ke banyak tempat nun jauh di sono. Seneng keluyuran, membuat saya bermimpi mengunjungi banyak tempat. Tapi sayang keterbatasan itu kadang membuat langkah sedikit tersendat. Apalagi jika keluyuran ke sana kemari butuh transport, modal, kesiapan dan tetek bengek lainnya. Karenanya, dalam diam, keinginan-keinginan itu terpaksa harus dikubur.  Saat senggang, beberapa waktu lalu, saya nyoba keliling bareng si sulung. Saya awali dari ngajak dia ke museum. Di museum, ia terkaget-kaget melototin barang2 dan aneka macem yg menurut dia aneh. "Kok buku di kerangkeng. Kok ada buaya buatan di kurung dalam kaca," katanya.  "Kok ada foto, kok ada ini itu, di dalam kaca," sambungnya lagi penasaran.  Selepas dari museum, sy ajak lagi ke Sade. Penasarannya kambuh lagi. Kok atap rumah di sini beda ya,

Tembang (HUJAN MALAM MINGGU) dan Pentingnya Sikap REALISTIS

fhoto by : orliniza SAYA gak pernah kepikiran untuk ngopi dengan Capucino (sachetan), karena terbiasa ngopi Hitam. Saya pun gak pernah kepikiran untuk membaca buku berjudul, "Kata adalah Senjata" malam ini. Satu buku lama yg pernah saya beli secara online. Yang ada dalam pikiran saya, sejak dua bahkan tiga hari yang lalu : memenuhi janji bertamu ke rumah seseorang. Tapi apa yang terjadi? Hingga malam ketiga, janji itu tak bisa saya tunaikan. Padahal sedari awal saya siapkan. Justru sebaliknya, saya malah kejebak baca buku, ngopi sembari menikmati hujan malam minggu. Begitulah. Tak semua yg kita pikirkan, rencanakan, bisa terwujud. Justru yang tak terbersit di kepala sama sekali--malah itu yang terjadi ; itu yang kita lakukan. Itu yang kita peroleh. Dari sini, kita bisa mengambil hikmah, bahwa hidup harus kita jalani secara realistis. Hidup itu gak perlu neka-neko. Hidup gak penting membutuhkan seseorang banyak drama, apalagi pencitraan. Hiduplah seadanya, se