Bank Syari’ah Tak Kenal Maka Tak Sayang

 


ILUSTRASI, dibuat menggunakan AI

 

Banyak kalangan meyakini bahwa ekonomi syariah dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Bahkan beberapa tahun terakhir muncul wacana agar NTB menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah Indonesia.



Ketika tulisan ini pertama kali, keberadaan bank syariah di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih terbilang terbatas. Jumlahnya sedikit dan belum banyak dikenal masyarakat. Namun waktu telah membuktikan bahwa lembaga keuangan syariah bukan sekadar fenomena sesaat. Perlahan tetapi pasti, bank syariah tumbuh, memperluas jaringan, dan mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

 

Kini kondisinya jauh berbeda. Tidak hanya di Kota Mataram sebagai ibu kota provinsi, lembaga keuangan syariah telah hadir hampir di seluruh kabupaten dan kota di NTB. Bahkan transformasi Bank NTB menjadi bank berbasis syariah menjadi salah satu tonggak penting yang menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap sistem keuangan syariah. Perbankan syariah kini bukan lagi pemain pelengkap, melainkan bagian dari dinamika ekonomi daerah yang terus berkembang.

 

Perkembangan tersebut tentu membawa harapan baru. Banyak kalangan meyakini bahwa ekonomi syariah dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Bahkan beberapa tahun terakhir muncul wacana agar NTB menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah Indonesia. Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, optimisme itu lahir karena pertumbuhan industri keuangan syariah menunjukkan tren yang terus meningkat.

 

Namun, perjalanan perbankan syariah tidak selalu mulus. Di balik pertumbuhan yang mengesankan, masih terdapat berbagai persepsi dan keraguan di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang belum memahami apa sebenarnya bank syariah, bagaimana sistem kerjanya, dan apa perbedaannya dengan bank konvensional. Bahkan sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa keduanya sama saja, hanya berbeda nama.

 

Padahal, salah satu alasan mengapa perbankan syariah mendapat perhatian luas adalah karena sistem operasionalnya yang berbeda. Saat Indonesia mengalami krisis ekonomi pada 1997–1998, banyak lembaga keuangan mengalami guncangan hebat. Di tengah situasi tersebut, perbankan syariah dinilai mampu bertahan lebih baik karena menggunakan mekanisme yang berbeda dari sistem perbankan berbasis bunga. Pengalaman itu menjadi salah satu alasan mengapa bank syariah kemudian semakin diperhitungkan.

 

Tiga Kelompok Masyarakat

 

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap bank syariah tidaklah seragam. Muhammad, akademisi yang banyak menulis tentang ekonomi Islam, membagi masyarakat Indonesia ke dalam tiga kelompok besar.

 

Pertama, kelompok yang loyal terhadap sistem syariah. Kelompok ini memilih bank syariah karena keyakinan agama sekaligus kepercayaan terhadap sistem yang dijalankan.

 

Kedua, kelompok yang tetap loyal pada sistem bunga atau perbankan konvensional. Mereka merasa lebih nyaman dengan sistem yang sudah dikenal dan digunakan selama bertahun-tahun.

 

Ketiga, kelompok mengambang (floating market), yaitu mereka yang tidak terlalu mempermasalahkan sistem yang digunakan dan lebih mempertimbangkan manfaat serta keuntungan yang diperoleh.

 

Temuan serupa juga muncul dalam berbagai survei di sejumlah daerah di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki pandangan yang beragam terhadap konsep bunga bank dan sistem syariah. Namun yang menarik, hampir semua penelitian tersebut memperlihatkan satu kecenderungan yang sama: prospek perbankan syariah terus menunjukkan perkembangan positif.

 

Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik bank syariah tidak hanya terletak pada aspek agama semata. Banyak masyarakat mulai melihat nilai lain yang ditawarkan, seperti prinsip keadilan, transparansi, kemitraan, dan semangat berbagi manfaat. Dengan kata lain, daya tariknya terletak pada manfaat sekaligus nilai moral yang menyertainya.

 

Sosialisasi yang Melahirkan Kepercayaan

 

Meski berkembang pesat, tantangan terbesar perbankan syariah hingga saat ini masih berkaitan dengan pemahaman masyarakat. Banyak orang belum mengenal secara utuh prinsip-prinsip yang dijalankan oleh bank syariah. Akibatnya, berbagai kesalahpahaman terus muncul dan berkembang.

 

Karena itu, sosialisasi menjadi pekerjaan penting yang tidak boleh berhenti. Semakin banyak masyarakat memahami konsep, produk, dan mekanisme bank syariah, semakin besar pula peluang tumbuhnya kepercayaan publik.

 

Sosialisasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari edukasi langsung kepada masyarakat, forum diskusi, seminar, hingga pemanfaatan media cetak dan media digital. Di sisi lain, lembaga perbankan syariah juga harus terus melakukan pembenahan internal, memperkuat kualitas pelayanan, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, serta menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

 

Dalam teori pengembangan organisasi, perubahan yang direncanakan merupakan langkah penting agar sebuah lembaga mampu beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Prinsip ini juga berlaku bagi perbankan syariah. Di tengah persaingan yang semakin ketat, bank syariah harus terus memperkuat diri agar mampu bersaing secara sehat dengan lembaga keuangan lainnya yang lebih dahulu mapan.

 

Lebih dari itu, bank syariah perlu menegaskan bahwa keberadaannya bukan hanya untuk umat Islam. Nilai-nilai yang diusung, seperti keadilan, transparansi, dan kemitraan, bersifat universal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.

 

Tak Kenal Maka Tak Sayang

 

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer: tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini tampaknya sangat relevan untuk menggambarkan kondisi perbankan syariah saat ini.

 

Bagaimana mungkin masyarakat mencintai atau mempercayai sesuatu yang belum mereka pahami? Bagaimana mungkin mereka memilih bank syariah jika informasi yang diterima masih terbatas atau bahkan keliru?

 

Karena itu, pengenalan yang lebih luas terhadap perbankan syariah menjadi kebutuhan yang mendesak. Semakin baik proses edukasi dilakukan, semakin besar pula peluang tumbuhnya rasa percaya masyarakat. Kepercayaan tersebut pada akhirnya akan melahirkan loyalitas, dan loyalitas akan tumbuh menjadi dukungan yang kuat terhadap perkembangan lembaga keuangan syariah.

 

Dalam proses ini, peran tokoh agama, ulama, dai, akademisi, dan para pendidik menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial. Sebagaimana dicatat dalam sejarah, para ulama tidak hanya dikenal karena ilmunya, tetapi juga karena kemampuannya membimbing masyarakat menuju perubahan yang lebih baik.

 

Pada akhirnya, masa depan perbankan syariah tidak hanya ditentukan oleh jumlah kantor cabang atau besarnya aset yang dimiliki. Masa depan itu sangat ditentukan oleh seberapa jauh masyarakat mengenal, memahami, dan merasakan manfaat kehadirannya.

 

Sebab, ketika masyarakat mulai mengenal dengan baik, lahirlah kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh rasa memiliki. Dan dari rasa memiliki itulah tumbuh “kasih sayang” terhadap sebuah institusi yang diyakini mampu menghadirkan manfaat, tidak hanya bagi kehidupan ekonomi, tetapi juga bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bersama.


(artikel ini pernah dimuat Lombok Post, pada 11 Februari 2009)

Komentar